*MEWARISKAN KETURUNAN YANG SHALIH*
_Ustadz Adriano Rusfi_
Banyak orang tua yang begitu bangga jika anaknya kelak menjadi Al Fatih selanjutnya yang kelak menaklukan Roma di akhir zaman sebagaimana nubuwah Nabi bahwa kelak islam akan bangkit sebelum kiamat tiba.
Ada sekolah yang namanya memakai nama Al Fatih. Ada juga taman yang diberi nama Al Fatih. Dan ketertarikan terhadap sosok Al Fatih adalah karena beliau seorang penakluk.
Kalau saya sendiri justru tertarik dengan sosok Umar bin Khaththab. Kenapa? Alasannya sederhana saja :
*Karena beliau punya anak dan cucu yang shaleh (Abdullah bin Umar dan Umar bin Abdul Aziz)*
Bagi saya, mewariskan keturunan yang shaleh itu sangat heroik. Banyak yang menganggap kalau heroisme itu hanya terjadi di medan tempur. Padahal, berumah tangga dan mendidik anak itu jauh lebih heroik.
Betapa banyaknya orang yang hebat di medan perang, tapi gagal total di rumah tangga. Betapa banyaknya orang yang sukses mendidik anak orang lain, tapi gagal mendidik anak sendiri..
Dalam menegakkan rumah tangga dan mendidik anak sangat banyak yang harus kita perjuangkan dan sangat banyak yang harus kita korbankan.
Bagi yang sudah menikah tentunya sadar betapa menegakkan dan mempertahankan rumah tangga sangat tak mudah. Syaitan selalu mengintai setiap peluang perceraian.
Menjaga rumah tangga lebih mirip medan jihad daripada taman bunga. Sedangkan dalam mendidik anak, kita harus mengorbankan waktu, kesenangan, karir, peluang, capaian material dan lainnya.
Boleh jadi demi masa depan anak kita harus mengorbankan masa depan kita sendiri. Tak sempat ambil gelar doktoral karena fokus mendidik anak, bukankah itu heroik ?
Jangan pernah menyesal dan kecewa bahwa sejumlah mimpi gagal diraih gara-gara berkeluarga dan punya anak. Karena mewariskan anak shaleh adalah mimpi terbaik bagi dunia dan akhirat kita.
Awal dari pendidikan anak shaleh adalah aqidah. Sehingga menjadi manusia progresif, karena diilhami oleh sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Prinsip pendidikan anak shaleh adalah seperti sabda Rasulullah :
_"Permudah, jangan persukar. Berikan kabar gembira, jangan membuatnya lari" (HR Ahmad)_
Jadi, jangan berkata pada anak : "Berjalanlah dalam koridor Islam". Tapi katakanlah : "Jangan berjalan dalam koridor Kebathilan"
Karena Islam itu luas, tak sempit seperti koridor. Sedangkan Kebathilan itu sempit seperti koridor. Kita harus merevolusi pendidikan anak-anak kita, agar lahir anak shaleh, agar kelak kita mewariskan keturunan yang shaleh.
#HEbATCommunity
#AyahPendidikPeradaban
#HomeEducation
Mewariskan Keturunan yang Shaleh
Ustad Adriano Rusfi ,Psi.
Grup HEbAT Nasional
24 Juni 2016
Ketertarikan terhadap sosok Al Fatih adalah karena beliau seorang penakluk. Bagi ummat yang merindukan tegaknya khilafah, sosok ini menjadi begitu dirindukan. Sebagian besar aktivis ummat ini masih begitu yakinnya bahwa khilafah tegak lewat penaklukan.
Kalau saya sendiri justru tertarik dengan sosok Umar bin Khaththab ra. Kenapa ? Alasannya sederhana saja :
*Karena beliau ra punya anak dan cucu yang shaleh (Abdullah bin Umar ra dan Umar bin Abdul Aziz)*
Bagi saya, mewariskan keturunan yang shaleh itu sangat heroik.
Banyak yang menganggap kalau heroisme itu hanya terjadi di medan tempur. Padahal, berumahtangga dan mendidik anak itu jauh lebih heroik.
Betapa banyaknya orang yang hebat di medan perang, tapi gagal total di rumahtangga. Betapa banyaknya orang yang sukses mendidik anak orang lain, tapi gagal mendidik anak sendirian.
Dalam menegakkan rumahtangga dan mendidik anak sangat banyak yang harus kita perjuangkan dan sangat banyak yang harus kita korbankan.
Bagi yang sudah menikah tentunya sadar betapa menegakkan dan mempertahankan rumahtangga sangat tak mudah. Syaitan selalu mengintai setiap peluang perceraian. Ia lebih mirip medan jihad daripada taman bunga.
Sedangkan dalam mendidik anak, kita harus mengorbankan waktu, kesenangan, karir, peluang, capaian material dsb.
Boleh jadi demi masa depan anak kita harus mengorbankan masa depan kita sendiri. Tak sempat ambil gelar doktoral karena fokus mendidik anak, bukankah itu heroik ?
Jangan pernah menyesal dan kecewa bahwa sejumlah mimpi gagal diraih gara-gara berkeluarga dan punya anak.
Karena mewariskan anak shaleh adalah mimpi terbaik bagi dunia dan akhirat kita.
Shaleh itu amal. Makanya ada istilah amal shaleh.
Alhasil gambaran anak shaleh itu adalah anak yang aktif, produktif, progresif dan kontributif bagi kebenaran dan kebaikan.
Anak shaleh itu tancap gasnya kenceng. Namun sebelum nabrak injak rem. Mendahulukan amar ma’ruf sebelum nahi munkar. Mendahulukan melaksanakan perintah sebelum meninggalkan larangan. Mendahulukan kejar pahala sebelum jauhi dosa.
Anak shaleh itu lebih takut pada dosa iblis (tidak laksanakan perintah) daripada dosa Adam (tidak jauhi larangan).
Anak shaleh adalah anak yang sadar bahwa syarat masuk surga dan terhindar dari neraka tergantung dari banyaknya pahala, bukan dari sedikitnya dosa (QS AlQari’ah : 5 – 8).
Awal dari pendidikan anak shaleh adalah aqidah. Sehingga menjadi manusia progresif, karena diilhami oleh sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Berbeda jika yang pertama kali dididikkan adalah akhlak. Ia akan jadi anak santun, tapi pasif.
Karena dalam Islam pendidikan akhlak adalah pendidikan pamungkas : terakhir dan puncak.
Pendidikan aqidah itu memerdekakan anak, karena mereka terbebas dari segala bentuk penghambaan kecuali kepada Allah. Itulah yang membuatnya sangat progresif.
Namun, agar tak kebablasan, mereka perlu dididik Akhlak sebagai fungsi kontrol.
Yang repot kalau orangtua belum apa-apa sudah mendidik akhlak. Akhirnya ya over control
Pertanyaan anak shaleh : “Ada larangan ?”
Pertanyaan anak sopan : “Boleh nggak ya ?”
Jika anak shaleh menemukan jalan terlarang, maka ia akan cari jalan lain
Jika anak sopan menemukan jalan terlarang, maka ia akan berhenti
Maka, prinsip pendidikan anak shaleh adalah seperti sabda Rasulullah SAW :
“Permudah, jangan persukar. Berikan kabar gembira, jangan membuatnya lari” (Hadits)
Jadi, jangan berkata pada anak : “Berjalanlah dalam koridor Islam”
Tapi katakanlah : “Jangan berjalan dalam koridor Kebathilan”
Karena Islam itu luas, tak sempit seperti koridor. Sedangkan Kebathilan itu sempit seperti koridor.
Kita harus merevolusi pendidikan anak-anak kita, agar lahir anak shaleh. Mewariskan Keturunan yang Shaleh
------------------------------------------------------------------------
_*Sesi Diskusi*_
Deasy: “Kita harus merevolusi pendidikan anak-anak kita, agar lahir anak shaleh”. Mengapa harus merevolusi ustad?
*Ust’Adriano:*
Bunda Deasy, sistem pendidikan anak shaleh kita selama ini fatal.
Yang kita hasilkan selama ini adalah anak-anak terlalu normatif, pasif, reaktif, salah paham dan buruk sangka pada Allah, berfokus pada ancaman eksternal dst.
Butuh perubahan radikal, baik pada paradigma maupun metode. Saya butuh seharian untuk membahasnya
❓Bunda Mirta: Afwan ust 🙏�, “sistem pendidikan” yg ust maksud termasuk pesantren atau islamic boarding school?
*Ust’Adriano:*
Sejak dari rumah hingga sekolah dan pondok keliru cukup fundamental. Pemahaman terhadap agama keliru, karena pemahaman terhadap Allah keliru.
Sikap dasar yang terbentuk terhadap Allah selama ini sangat bernuansa takut. Akibatnya kedekatan dan kelekatan generasi kita terhadap Allah sangat lemah.
Akibatnya ketergantungan kita terhadap Allah juga lemah. Kita terlalu percaya pada ikhtiar ketimbang pertolongan Allah.
Padahal keshalehan itu adalah kombinasi antara amal progresif dengan tawakkal seutuhnya : beramal bagai Mu’tazilah, tawakkal bagai Jabariyyah✅
❓Bunda Ety: Mengapa mu`tazilah & jabariyyah ust?
*Ust’Adriano:*
Satu contoh, sangat banyak diantara kita yang yakin bahwa kalau ingin terbebas dari neraka maka dosa harus seminimal mungkin.
Sehingga kita cenderung mengerem sekuat mungkin, dan lebih takut pada kesalahan Adam (melanggar larangan) daripada kedurhakaan iblis (tak laksanakan perintah)
Itu hanya analogi, Bunda Ety. Mu’tazilah adalah golongan yang hanya percaya ikhtiar. Sedangkan Jabariyyah justru tawakkal total tanpa ikhtiar
❓Bunda Ety: Apakah saat Qt sibuk beramal jd lupa melanggar larangan..?💪😊
*Ust’Adriano:*
Kalo yang terjadi saat ini sih terbaik :
Sibuk menghindari larangan, sehingga takut beramal.
Seperti Ramadhan ini. Bulan yang seharusnya sangat sibuk ini justru sangat pasif, karena satu alasan : takut batal. Padahal, kebaikan di bulan Ramadhan diganjar 700 kali lipat, sedangkan keburukan 1 kali lipat
Amar ma’ruf nahi munkar, telah berubah menjadi nahi munkar amar ma’ruf
Melaksanakan perintahNya dan meninggalkan laranganNya, telah berubah menjadi meninggalkan laranganNya melaksanakan perintahNya✅
❓Bunda Ratna: Subhanallah mengerti ustadz. Jadi sibukannlah dalam kebaikan ya ustadz
*Ust’Adriano:*
Betul, Bunda Ratna. Sekecil-kecilnya ganjaran atas kebaikan itu 10 kali lipat. Sedangkan ganjaran atas keburukan itu 1 kali lipat.
Maka sibukkan diri dengan kebaikan, agar tak ada lagi waktu dan enersi untuk keburukan✅
❓Bunda Deasy: 📝 Pendidikan aqidah itu memerdekakan anak, karena mereka terbebas dari segala bentuk penghambaan. kecuali kepada Allah. Itulah yang membuatnya sangat progresif.
➡ Boleh tlg dijelaskan lbh dalam ustad? Bgmana konteks kesehariannya?
*Ust’Adriano:*
Bunda Deasy, syahadat adalah deklarasi kemerdekaan dari segala perbudakan, kecuali kepada Allah.
Jika syahadat ini terhunjam dalam kepribadian anak, maka ia menjadi pribadi yang bebas dari rasa takut, sehingga menjadi sangat progresif dan berani.
Ia hanya takut kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang✅
❓Ayah Irawan – HEbAT Jabar
Ust Aad
Jadi, jangan berkata pada anak : “Berjalanlah dalam koridor Islam”
Tapi katakanlah : “Jangan berjalan dalam koridor Kebathilan”
Karena Islam itu luas, tak sempit seperti koridor. Sedangkan Kebathilan itu sempit seperti koridor.👈�👈�👈�
Maaf jika kurang memahami… Agak ambigu maksud tulisan di atas..
Sy rasa, jika kita sdh berjalan dalam koridor Islam, maka otomatis kita tdk akan pernah berjalan dalam koridor kebathilan.
Memaknai kata “koridor” yg diinterpretasikan Sbg kata dgn makna sempit, kuranglah tepat.
Agak kurang paham saja. Sedikit ambigu dua kalimat perintah tsb… 🙏😊
*Ust’Adriano:*
Ayah Irawan, apa yang akan terbayang oleh anak kita ketika kita menyebut kata “koridor” ?
Bukankah itu adalah lorong yang sempit ? Bukankah itu berarti “segala hal diluar koridor adalah salah” ?
Padahal ajaran Islam justru bicara sebaliknya :
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap raja itu memiliki tanah larangan. Dan sesungguhnya tanah larangan Allah adalah apa-apa yang diharamkanNya” (Hadits)
Jadi, dalam ajaran Islam larangan itu justru merupakan pengecualian
“Asal hukum segala sesuatu adalah boleh, kecuali yang dilarang” (ushul fiqh)
Nah, pembahasannya akan sangat panjang jika tak dimulai dari landasan aqidah.
Jika dibahas secara tidak tertib, justeru bisa menimbulkan salah paham
❓Bunda Muthi: Maksudnya anak soleh lebih takut tidak laksanakan perintah daripada jauhi larangan gimana ustadz? Contoh praktek ke anaknya gimana yah ?
*Ust. Adriano Rusfi:* Bunda Muthi, mari kita perhatikan kasus ini :
Adam as dihukum Allah karena melanggar larangan Allah
Iblis dihukum Allah karena tak laksanakan perintah Allah
Tapi yang mana yang dianggap lebih durhaka ?
Maksiat berasal dari kata ‘asha, yang artinya membangkang.
Apa yang spontan terbayang dalam pikiran kita ketika mendengar kata “membangkang” ?
Tak laksanakan perintah atau melanggar larangan ?
Mari kita camkan pertanyaan dari Ibnu Abbas ra :
“Dulu kami bersama Rasulullah SAW gemar mengkaji ayat-ayat barakah. Tapi kenapa sekarang kalian lebih gemar mengkaji ayat-ayat ancaman?” ✅
❓ Bunda nutty dari Bandung: Bismillah..Ustadz, tolong perjelas lagi, contoh penerapan pendidikan aqidah dan akhlaq. Contohnya kurang banyak..Saya takut salah langkah..hehehe.
❓ Pak Solihudin dari HEbAT Bekasi: Ust. bagaimana dengan sikap seorang Shahabat Nabi yg lebih suka dgn keterhindaran dari maksiat daripada keberhasilan melakukan amal sholih? karena anggapan kalau beramal shalih pahalanya belum pasti/belum tentu diterima Allah, sedangkan kalau maksiat bisa dipastikan bernilai dosa. ini ada di buku Dr Yusuf Qordhowi ttg Fiqh Aulawiyat ketika memilih antara mengindari maksiat dan melakukan amal sholih.
Di dalam Al Quran, seorang alim itu tandanya takut pada ALlah. Yg implementasinya adalah takut maksiat
❓ Bunda Seruni Nurul dari Bandung: Apa pendidikan bagian dari pendidikan aqidah?
👳🏻*Ust Adriano Rusfi*: Dalam sejarah Islam, orang yang level ketaqwaannya sudah sangat tinggi, memang fokusnya sudah nahi munkar, bukan lagi amar ma’ruf.
Mereka disebut sebagai Ulin Nuha. Tapi jangan lupa, ini merupakan proses akhir.
Kalau gara-gara mencontoh para Ulin Nuha lalu kita ajarkan anak kita seperti mereka, inilah kelirunya
Sama dengan akhlak. Akhlak adalah puncak dan penghujung ajaran Islam. Apakah lalu kita langsung ajaran akhlak pada anak ?
Analogi lain adalah belajar bahasa. Puncak dari bahasa adalah tata bahasa dan sastra. Tapi jika ini dulu yang kita ajarkan pada anak, dijamin ia akan sulit berbahasa.
Karena hakikat bahasa adalah komunikasi
Pendidikan kita sering melompat.
Dalam bola basket, belum diajari passing tapi sudah diajari slam dunk. Walau diakui slam dunk adalah puncak keindahan bola basket
Dalam pencak silat, belum diajari kuda-kuda sudah diajari jurus kembangan. Padahal esensi dari silat adalah kuda-kuda
Sebelum kita menjadi ulin nuha, jadilah dulu ulil albab
Hudzaifah ra berkata :
“Para shahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang yang baik-baik. Tapi aku bertanya tentang yang buruk-buruk, khawatir ia menjumpaiku”
Jadi memang ada shahabat ra yang tidak mainstream, menjadi spesialis atas alasan tertentu
Ciri ulama itu adalah takut kepada Allah (AlQur’an). Tapi Allah yang ditakuti itu adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Mari kita rasakan rasa takut pada ArRahman dan ArRahiim✅
❓ Ayah Irawan dari Bekasi: Sy paham Maksudnya, tp jgn malah melarang sesuatu yg sebetulnya secara makna sama, tp dibuat jd sesuatu yg terkesan berlainan atau bahkan berseberangan…
Jadi, jangan berkata pada anak : “Berjalanlah dalam koridor Islam”
Tapi katakanlah : “Jangan berjalan dalam koridor Kebathilan”
Karena Islam itu luas, tak sempit seperti koridor. Sedangkan Kebathilan itu sempit seperti koridor.”
Mhn maaf, agak kurang pas saja memaknai kata “koridor” yg sebetulnya sebuah analogy dr maksud yg ingin disampaikan…
Yg seharusnya bermakna konotatif tp dimaknai denotatif oleh sang ustad… Jd malah terkesan sempit, berfokus hanya pada kata koridor, padahal substansinya bukan itu…😊
Maaf jika salah memahami maksud beliau… 🙏🙏🙏😊
👳🏻*Ust Adriano Rusfi*: Ayah Irawan, sebuah kata punya makna dan dampak psikologis pada anak, dan akan berpengaruh pada bawah sadar terhadap Islam.
Koridor adalah lorong. Dia memanjang, namun sempit. Di kiri dan kanannya ada wilayah “luar koridor” yang luas namun tak boleh disentuh.
Silakan saja sih kalau mau pakai istilah “koridor Islam”, sejauh kita paham dampak psikologisnya terhadap penghayatan bawah sadar anak terhadap Islam ✅
❓ Bunda Rolla: Anak shaleh adalah anak yg sadar bahwa syarat masuk surga dan terhindar dari neraka tergantung dari banyaknya pahala,dst…
Kalimat itu bertentangan dg hadits ini ga :
Dalam hadits disebutkan,
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ » . قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ
Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari no. 5673 dan Muslim no. 2816)
Sumber: https://rumaysho.com/11758-masuk-surga-bukan-dengan-amalan-benarkah.html
Boleh minta penjelasannya ust..?
Mengajarkan aqidah terlebih dahulu baru akhlak, bagaimana prakteknya?
👳🏻 *Ust Adriano Rusfi*: Bunda Rolla, Allah berfirman :
“Maka barangsiapa yang berat timbangan kebaikannya, maka dia akan tinggal di tempat yang memuaskan. Dan barangsiapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat tinggalnya adalah neraka Hawiyah”
Namun, pada akhirnya ridha Allahlah yang menentukan. Jadi, kedua hal tersebut tak bertentangan.
Sama dengan pertandingan tinju. Ukurannya adalah jumlah pukulan yang berhasil disarangkan. Tapi akhirnya keputusan juri jualah yang menentukan
Bunda Rolla, ajarilah anak dengan Rububiyatullah, Uluhiyatullah dan sifat-sifat Allah, terutama sebelum anak berusia 7 tahun. Intinya adalah agar anak tak mensekutukan Allah.
Setelah itu, 7 sd 10 tahun, tekankanlah pada pendidikan syariah. Ketika bangunan Islam itu telah berdiri kokoh, ajarkanlah mereka keindahan akhlak
Tentunya ini tidah kaku. Karena saat anak belajar sifat Allah, sebenarnya ia juga sedang belajar tentang Akhlak Allah ✅
❓ Bunda Desy dari Bandung: Nah, bgm cara mengembalikan/mengoreksi kesalahan didik di masa lalu…utk anak laki2 usia 13&12th..jelang aqil baligh ini…proses koreksinya hrs cepat atw bgm (mengejar balighnya agar aqilnya tdk telat)🤔
👳🏻*Ust Adriano Rusfi*: Tentang mengkoreksi salah didik masa lalu, intinya adalah :
“Ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapuskannya” (hadits) ✅
❓ Pak Marsahid dari Bekasi
Ustadz, terkait Muhammad Al Fatih, saya jadi ingat dengan Lionel Messi, seorang pesepakbola hebat.
Messi adalah produk sebuah akademi sepakbola hebat, La Masia di Barcelona. Tapi apakah semua produknya seperti Messi, yang bisa mencetak banyak gol? Tidak, tapi lahir bintang-bintang sepakbola lain yang hebat sesuai dengan potensinya masing-masing seperti Xavi, Puyol, Iniesta, Pique, Busquets hingga Victor Valdes.
Mereka bermain bersama dalam satu klub bernama Barcelona. Mereka saling support, bekerjasama, dan saling mengisi hingga lahirlah permainan Tiki Taka yg melegenda.
Messi seorang diri tentu tidak akan bisa hebat, karena tidak bisa menjaga gawang seterampil Valdes, menjaga pertahanan sekokoh Puyol dan Pique, atau mengatur irama permainan seperti Xavi-Iniesta dg umpan-umpan akurat untuk Messi mencetak gol.
Akademi La Masia masih tetap berjalan dan tidak merubah metodenya demi mencetak Messi-Messi baru.
Benar kata Ustadz Adriano, bahwa Sepakbola adalah simulasi kehidupan.
👳🏻*Ust Adriano Rusfi*: Betul, pak Marsyahid. Tugas kita bukanlah mencetak AlFatih-AlFatih baru, tapi menunaikan amanah yang Allah titipkan pada kita, yaitu melahirkan generasi terbaik sesuai potensinya
Saat ini banyak ayahbunda yang stres, karena mimpinya untuk mencetak AlFatih, AlBanna, Sayyid Quthb pada diri anaknya.
Padahal Allah dan RasulNya tak membebaninya sejauh itu. Kita diminta menyiapkan generasi terbaik untuk menghadapi jamannya ✅
❓ Bunda Yomori dari Bandung 2: Assalamualaikum uztad, pada kenyataannya mungkin karena kita orang timur akhlak suka jadi nomor satu kita ajarkan kan ke pada anak. Tapi ternyata tidak demikian dalam Islam. Kalau terlanjur mendahulukan pendidikan akhlak kepada anak apa yang harus kita lakukan uztad.
👳🏻*Ust Adriano Rusfi*: Akhlak memang ajaran tertinggi dalam Islam. Namun tanpa aqidah, itu akan sia-sia.
Untuk segala hal yang telah terlanjur, mari kita koreksi dengan mengajarkan prinsip-prinsip aqidah berulang-ulang, disertai dengan keteladanan yang konsisten.
Sesuatu yang telah tertanam hanya bisa dikoreksi melalui pengulangan-pengulangan yang intensif
Hidupkan fitrah dan nurani anak. Karena fitrah dan nurani adalah korektor otomatis ✅
❓ Ust. bagaimana dengan sikap seorang Shahabat Nabi yg lebih suka dgn keterhindaran dari maksiat daripada keberhasilan melakukan amal sholih? karena anggapan kalau beramal shalih pahalanya belum pasti/belum tentu diterima Allah, sedangkan kalau maksiat bisa dipastikan bernilai dosa. ini ada di buku Dr Yusuf Qordhowi ttg Fiqh Aulawiyat ketika memilih antara mengindari maksiat dan melakukan amal sholih.
Di dalam Al Quran, seorang alim itu tandanya takut pada ALlah. Yg implementasinya adalah takut maksiat
Pak Solihudin-Bekasi
👳🏻*Ust Adriano Rusfi*: Pak Sholihudin, seperti yang saya sampaikan di atas, orang-orang dengan taraf keimanan tertentu, seperti para shahabat, memiliki sikap khusus tertentu dalam beramal.
Diantara mereka ada yang telah menjadi Ulin Nuha (fokus untuk meninggalkan larangan), hadzr (berhati-hati atas tak diterimanya amal dan dicatatnya dosa) dsb.
Bilal ra senantiasa menjaga wudhu, Hudzaifah ra sensitif terhadap keburukan, Abu Dzat memilih hidup zuhud dsb. Itu adalah amaliyah-amaliyah khusus karena iman yang sudah “advanced”
Namun jangan lupa, mereka sampai pada maqam tersebut setelah melewati tahapan kelaziman seorang mukmin.
Mereka yang sudah fokus pada nahi munkar adalah orang yang urusan amar ma’rufnya sudah selesai. Yang mendalami akhlak adalah yang iman dan amalnya sudah “sempurna”. Yang fokus ke akhirat adalah yang urusan dunianya sudah “tuntas”
Kita silakan meneladani salah seorang sahabat, tapi marhalahnya jangan melompat. Jangan sampai afdhaliyah dijalankan, tapi basicnya malah ditinggalkan.
Jika terjadi konflik antara mengambil manfaat atau meninggalkan mudharat dari sebuah amal, maka berlaku kaidah fiqh :
“Meninggalkan keburukan didahulukan daripada mengambil manfaat” ✅
❓Pak Abdan dari Bdg2: Tanya ustadz, patuh pada orang tua termasuk akhlak atau amal saleh?. Tks
👳🏻 *Ust Adriano Rusfi*: Kepatuhan dasar pada orangtua adalah amal shaleh. Jika kepatuhan itu disertai dengan kesantunan, kelembutan, keutamaan, maka itu adalah amal yang berakhlak ✅
❓ Teh Rilly dari Bdg2: Ustad bagaimana mendidik aqidah untuk anak usia balita khususnya 3 thn?
👳🏻*Ust Adriano Rusfi*: Teh Rilly, aqidah sudah bisa ditumbuhkan sejak anak masih dalam perut. Dapat dilakukan lewat keteladanan, nasyid, cerita, doa dsb ✅
Komentar
Posting Komentar