Cerita Dino
'Sis, Dino berhenti sekolah" lapor putri padaku. " Kok bisa put? Mengapa? " terkejut diriku dengan kabar yg dibawanya.
"Menurut kabar ayah Dino meninggal, sehingga dia tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah" jelas putri lagi. "Innalilahi wainnailahi rojiun. Kamu kata siapa? " tanyaku kembali.
"Mamay temanku yang kelas F. Tadi dia bertemu denganku saat dikantin" sahutnya.
SMP kami ini adalah sekolah yang asri dan berundak undak Kelasku adalah kelas 1 G dan satu-satunya kelas 1 yang letaknya di undakan ke 2. Yang terkadang kami kurang informasi dari kelas lain.
Dari sekolahku yang dulu hanya Aku yg diterima sekolah disini. Yg sempat membuatku asing, tapi akhirnya aku bertemu Putri, teman sebangku yg kalau disejajarkan denganku, kami bagaikan kopi susu, dan angka 10. Aku sikurus yg berkulit legam, sedangkan putri si putih berbadan subur. Kombinasi sempurna kata teman-teman ku.
Putri memiliki banyak teman disekolah ini. Yang terbanyak adalah laki-laki.
Berkat putrilah Aku dikenal dan dekat dengan teman-teman yg lain. Salah satunya Dino sang ketua kelas yg tampan dan pintar.
Pengunduran diri Dino mengegerkan satu kelas kami. Aku sang sekertaris dan putri si bendahara tentu saja bingung dibuatnya. Bahkan Aris wakil ketua kelasku tidak tahu menahu hal ini.
Aku tak habis pikir mengapa Dino harus keluar sekolah saat kami sudah mendekati kenaikan tingkat. Padahal pengumuman ulangan semester genap baru saja diumumkan akan dilaksanakan minggu depan. Ah sayang sekali. Bagaimana masa depannya?
Sampai dirumah, masih terngiang ditelingaku saat ku temui Dino di rumahnya tadi, saat aku dan putri sengaja berkunjung kerumahnya.
"Maaf Siska aku tdk dapat melanjutkan sekolah, karena aku harus membantu ibu mencari uang menggantikan ayahku untuk makan adik-adikku ini" jelasnya, dengan wajah tegar dan tersenyum tipis.
"Tapi Din, lulusan SD bisa kerja apa? " sahutku tak tega dengan keputusannya.
"Aku jualan sayur menggantikan ayahku, Alhamdulillah Pak Sastro, juragan sayur dikampungku, mempercayaiku untuk menggantikan ayahku" sahutnya .
Ternyata kami tak mampu membujuk tekad Dino untuk berhenti sekolah. Saat itu aku begitu kecewa dan pertama kalinya merasakan dunia ini tidak adil bagi Dino.
Semenjak saat itu kami tidak pernah mendengar kabar Dino lagi. Walaupun sesekali pernah kulihat dia di pasar saat aku mengantar ibuku berbelanja. Ah, seorang pintar nan cerdas seperti Dino lebih layak memakai seragam bersama kami belajar di sekolah, dibandingkan bersama bapak-bapak yg berbaju lusuh di pasar berjualan sayuran, pikirku saat itu.
Waktu berganti Aku dan putri lulus sekolah menengah. Putri melanjutkan ke sekolah menengah kejuruan Tata boga. Putri memang senang sekali memasak. Sedangkan Aku sekolah di SMA Negeri.
Kami selalu berkirim kabar, bahkan sesekali aku main kerumahnya untuk menginap, sebaliknya putri juga suka
menginap dirumahku.
POV putri
Aku dan Siska sekarang berbeda sekolah. Disekolahku semenjak Aku kelas 2 hampir tiap minggu selalu praktik memasak. Hari ini kami akan praktik mempersiapkan steak untuk makan siang. Pagi ini Aku mampir dahulu ke pasar untuk membeli bahan-bahannya.
Yang kubutuhkan selain daging, tentu saja makanan pendampingnya. Yaitu sayuran yg segar sebagai pelengkap makanan yg harus ku beli di pasar.
Setelah membeli daging, kulangkahkan kakiku pada kumpulan penjual sayur yg ada di sudut pasar.
Ku ingat benar ajaran guruku, untuk memperhatikan kesegaran sayuran yg dibeli. Salah satu tips beliau sayuran segar yg dibeli di penjual emperan biasanya lebih segar dibandingkan yg dijual di toko bahan sayur, selain tentu saja harus dilihat juga kondisi sayuran nya.
"Mau beli apa put?" penjual didepanku menegurku.
"MasyaAllah Dino, bagaimana kabarmu." terkejut Aku melihatnya. "Alhamdulillah sehat put. Bagaimana kabar kamu dan Siska? Sekarang sekolah dimana? " tanyanya.
"Aku di SMK X Din, Siska di SMA Negeri." Kamu bagaimana? " sapaku.
"Yah beginilah Put, penjual sayur, tapi alhamdulillah kami bisa bertahan" sahutnya sambil tersenyum.
"Din, Aku mau beli kentang, wortel, dan buncis ya. Masing-masing setengah kilo. Buat praktik masak." Sahutku canggung. Tanpa banyak kata Dino membingkuskan sayuran belanjaku. "Maaf ya Din, Aku sedang buru-buru. ini semua jadinya berapa?" tanyaku lagi.
"Gratis" sahutnya. "Ah mana boleh Din, kamu kan dagang, aku ngak mau kamu rugi." Sahutku tidak enak.
"InsyaAllah ngak rugi, cepat bawa sana, nanti kamu telat loh." Kata Dino mengusirku.
Melihat jam sudah menunjukan 06.33 wib aku pun mengalah dan berkata padanya.
"Baiklah, terimakasih ya Din,
lain kali kita ngobrol lagi yg lama ya. Tapi lain kali Aku tidak mau gratis ya." Sahutku kemudian pamit padanya. Dia hanya mengangguk dan tersenyum sambil melambaikan tangan.
Kulihat dia melayani pembeli lain. Di angkutan umum Aku termenung dan berdoa semoga hari ini dagangannya laku semua dan mendapatkan keuntungan yg banyak.
Pulangnya ku WA siska dan kuceritakan kejadian dipasar tadi pagi. Kami banyak mengingat kejadian dahulu bersama Dino dan sangat menyesal tdk dapat membantunya banyak dahulu.
POV Dino
Ku rapihkan sayuran yg tersisa didepanku. Semenjak habis subuh tadi seperti biasa aku mengambil sayur di pak Sastro untuk Ku jual dipasar. Alhamdulillah sebagian besar sudah terjual, yg tersisa tinggal sedikit. Kulihat ada seorang perempuan berseragam putih abu menghampiriku. Sepertinya aku kenal gadis ini. Ah ya. ini Putri teman SMP Ku. Ku tegur dia dan bicara dengannya. Ah, jadi rindu teman-teman ku di sekolah dulu. Siska dan Putri inilah yg sangat perhatian saat aku harus menerima kenyataan bahwa aku harus berhenti sekolah. Perhatian mereka membuatku terenyuh dan berusaha tegar menghadapi masa depanku, sang penjual sayur.
Rutinitas ku tidaklah beragam seperti mereka. Setelah berjualan sayur aku harus membantu ibu bersih-bersih rumah. Karena ibu sekarang berjualan masakan matang dan kue di depan sekolah SD dekat rumah. Ku memasak nasi dan mencuci pakaian. Setelah ashar aku harus ke rumah pak Sastro kembali untuk membeli sayuran, agar pak Sastro bisa menyiapkan sayuran yang harus Ku jual besok pagi.
"Din, bisa bantu Ustadz?" Tanya Ustadz Asep menghampiriku di rumah Pak Sastro.
"InsyaAllah, bantuan apa ustadz?" tanyaku padanya. "Ustadz ada tamu habis isya, kamu bisa bantu terima setoran hapalan anak-anak di mesjid?" Tanya nya.
"InsyaAllah ustadz" anggukku.
"Alhamdulillah. Terimakasih ya Din. Jawab Ustadz. Kuanggukan kepalaku dan kucium tangannya saat dia pamit pergi Aku bersyukur, setelah ayah tiada, teman-teman ayah selalu memperhatikan keluarga kami. Ada Pak Sastro, Ustadz Asep, pak RT dan tetanggaku yg lain yg membuatku lebih mudah menjalani kegiatan hari-hari kami. Dan haripun berlalu.
POV Siska
Hari ini hari ketiga aku bergelar mahasiswa. Ya, aku diterima kuliah di Universitas Nasional jurusan pangan dan gizi. Selamat tinggal putih abu.
Sudah 3 hari ini aku mengikuti MOS yg diadakan kampusku.
Kami hari ini diminta untuk saling berkenalan dengan kakak kelas dan sesama mahasiswa baru.
" Kamu, yg tinggi itu. Kesini." Seru kakak senior meminta seorang mahasiswa baru maju ke depan. "Siap kak! " serunya.
"Perkenalkan diri kamu. Ngomongnya yg keras dan tegas ya" pinta senior itu. "Siap kak! serunya lagi.
"Sebutkan nama, alamat dan lainnya.
Yang lain dengarkan ya." seru senior itu lagi. Kami serentak menjawab. "Siap kak".
"Nama Dino Satria Winarwan" teriak mahasiswa tersebut. Aku terkaget dan rasa tak percaya.
"Alamat jalan ciampea ujung...
Hobi: baca buku". Teriaknya lagi
Itu Dino temanku. Seruku dalam hati. Benarkah? Bukankah dia hanya tamat SD? Kok bisa jadi mahasiswa bersamaan denganku. Ada apa ini? Tanyaku dlm hati.
" Oh kamu mahasiswa yg dapat beasiswa karena hapal alquran itu ya? Tanya kakak senior itu lagi.
" Siap kak, Alhamdulillah betul kak. Jawab Dino.
"Berapa juz yang sdh kamu hapal?" Tanya nya lagi.
" Siap kak, 30 juz kak" jawabnya lagi.
Dan akupun pingsan. Yg ku tahu kuterbangun saat sudah diruang UKS.
Aku dijemput pulang oleh mamah. Aku tak habis pikir. Bagaimana seorang yg putus sekolah bisa menjadi mahasiswa dan dapat beasiswa lagi. Apakah karena dia hafidz alquran ya? Ku bertanya dalam hati.
Kuberitakan kabar ini pada Putri sahabatku. Dia pun tak percaya dan menggangap Aku bergurau. Aku dan Putri pun berjanji akan ke rumah Dino untuk bertanya padanya lebih lanjut.
POV Putri
Sudah hampir 2 bulan Aku magang di Hotel H ini. Setelah lulus sekolah Aku melamar bekerja dibeberapa hotel dan alhamdulillah Hotel H yang merupakan hotel bintang 5, menerimaku dengan status magang 3 bulan. Jika Aku berhasil, maka Aku akan dikontrak untuk bekerja di dapur hotel ini, alhamdulillah.
Pekerjaanku sederhana hanya membantu mempersiapkan bahan untuk dimasak, membersihkan peralatan dan area memasak. Hari ini aku shift 2. Memang lebih sibuk dari pada shift 1.
"Putri, hari ini kamu bantu saya ya, sekalian kamu belajar memilih bahan dan menyinpannya di ruang penyimpanan hotel ya " kata kak Ridwan wakil kepala Chef tempatku bekerja.
"Baik chef" seruku antusias.
Hari ini aku dikejutkan dengan berita dari Siska bahwa dia bertemu dengan Dino di kampusnya sebagai sesama mahasiswa baru. Tak habis pikir bagaimana ceritanya Dino bisa menjadi mahasiswa baru di kampus yg sama dengan Siska. Bahkan Dino mendapatkan beasiswa katanya. Antara percaya dan tidak tapi akhirnya aku berjanji padanya akhir pekan ini kami akan berkunjung ke rumah Dino.
"Yuk ke gudang bahan ya, kita pastikan jumlah stok bahan makanan kita dulu" kata kak Ridwan.
"Baik kak* kataku
Setelah kami melakukan pemeriksaan stok di gudang, Kak Ridwan lalu memintaku ke tempat penerimaan bahan makanan. Aku pun ijin mampir toilet dahulu. Diapun mengijinkan.
Di hotel H ini beredar berita bahwa dapur kami dipasok bahannya oleh seorang pengusaha ganteng dan muda kata resepsionis mengabariku. Dia naksir berat dan wanti-wanti sambil tertawa agar aku jangan naksir dan mendahuluinya. Ku tersenyum saja mendengarnya. Tapi sudah 2 bulan ini aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya. Sang Pengusaha muda idola seluruh karyawati hotel H ini. Ada-ada saja mereka.
Samar-samar ku dengar suara kak Ridwan berbincang-bincang dengan seseorang. Saat Aku berada ditempat penerimaan barang, Aku pun terheran.
"Dino" seru ku. Aku terkejut, kenapa Dino disini? Tanyaku dalam hati.
"Kok sudah tahu namanya Put, dia ini Pak Dino pemasok bahan makanan kita. Muda-muda sudah jadi pengusaha. MasyaAllah keren deh. sampai semua perempuan di Hotel H ini selalu menantikan kehadirannya" jelas kak Ridwan memperkenalkan Dino pada ku.
"Jadi.. Kamu pengusaha atau mahasiswa Din? "Tanyaku tak percaya.
" Kok kamu tahu Aku mahasiswa? ganti dia yang terkejut dan bertanyanya tak paham.
Dan sekarang yg terheran-heran adalah kak Ridwan, sang wakil kepala chef ku yg tak tahu kami berbicara apa.
-Tamat-
Komentar
Posting Komentar