SERUPA TAPI TAK SAMA - Talent Management dan Talent Development.
Terima kasih yang sudah memberi komentar dan menjapri saya tentang tulisan-tulisan topik Talent Management in Education (TME) saya. Kalau yang menyimak tulisan saya sejak awal pasti memahami bahwa konsep dasar Talent Management yang saya gulirkan memang berbeda dengan konsep Talent Management di perusahaan.
Kapan istilah Talent Management ada? Talent Management adalah istilah yang diciptakan pada tahun 1997 dan sebagian besar ditampilkan dalam laporan McKinsey dikaitkan dengan istilah “Talent War”. Sejak saat itu manusia dilihat sebagai aset organisasi yang paling berharga.
Sejak tahun 2015 saya berusaha "menarik" Talent Management ke akarnya yaitu dunia pendidikan sebagai upaya menghasilkan SDM yang tepat sesuai passionnya sebelum seseorang menentukan bidang dan peran/karirnya.
Saya merasa mengelola talenta ketika di perusahaan dengan aneka rupa training yang hanya fokus pada potensi dan kinerja karyawan yang unggul saja itu pemborosan, terlambat dan tidak fair. Sebenarnya itu sah-sah saja di dunia perusahaan tetapi kalau sejak awal diperoleh karyawan yang tepat sesuai passion tentu lebih baik terutama kaitannya dengan kelekatan karyawan (employee engagement).
Banyak juga yang menanyakan apa bedanya Talent Management dengan Talent Development. Dengan membawa talenta ke dunia pendidikan dan dikelola sebagai kurikulum inklusif, akan terlihat dimana letak keduanya.
Talent Management in Education (TME) terdiri atas tiga proses kerja sesuai kaidah manajemen (Plan – Do – Check – Action) yaitu Program Stimulation, Program Assessment dan Program Development (Baca tulisan saya sebelumnya).
Program Development adalah followup dari hasil assessment. Jadi, Talent Development adalah bagian dari TME. Aktivitas apa yang dijalani selama proses Talent Development tergantung hasil assessment dan tentu tergantung di level TME berapa. Yang khas di proses Development adalah adanya coaching, konseling dan mentoring untuk mendampingi individu sebagai pemenuhan diri di sisi spiritual, sosial dan emosional.
Saya contohkan perjalanan Talent Development salah satu murid saya yang sekarang mengambil studi S2 di FSRD ITB sebagai berikut:
Kami mengenal Naura di kelas 10 ABhome, setelah stimulasi dan asesmen tahap awal Talent Development di TME level 1 Naura berupa aneka aktivitas dan project yang terkait kearsitekturan karena memang itu hasil asesmen/pengakuan awal Naura ketika di sesi konseling, maupun coaching sebelum menentukan aktivitas produktifnya di tahap awal. Talent Development level 1 biasanya masih tercampur antara minat ekstrinsik dengan minat intrinsic. Namun hal tersebut tidak perlu dibebankan pada anak untuk menentukan pilihan, cukup dengan proses development dan stimulasi saja, nanti anak memilih sendiri dengan pengalaman langsung yang dialami.
Pada tahap berikutnya, setelah stimulasi dan assessment dengan tools Talents Mapping (yang versi lengkap), Naura nampak memiliki keberminatan di bidang design, visual art dan manual skill. Magang menjadi stimulasi yang tepat untuk Naura sehingga membantu proses talent developmennya di fashion design terpenuhi dengan baik.
Kebutuhan “makanan” otak kanan Naura terpenuhi di tahap Development TME level 3 Naura sudah makin fokus pada kekuatan cluster Generating Idea dan interpersonal skill dengan mengambil jurusan fashion design di S1 dengan cepat dan kini melanjutkan S2 di FSRD ITB sebagai mahasiswa termuda. Saat ini Naura sedang menyusun proposal tesis di kampusnya. Good luck Naura Naryama Nayottama, semangat!
Fb diena syarifa 06/07/2022
Komentar
Posting Komentar