POLA Talent Management in Education
Bagaimana memulai mengelola talenta individu di program Talent Management in Education? Bagi yang dewasa semisal mahasiswa bisa mengelola mandiri sambil sesekali diskusi dengan mentor atau coach untuk memvalidasi. Jika sudah bekerja di perusahaan tinggal disampaikan ke atasan terkait rencana pengembangan dirinya. Namun jika masih anak-anak, program Talent Management in Education ini perlu ortu terlibat mendampingi sebagai fasilitator dan partner anak. Itu yang dilakukan ABhome 2 tahun terakhir pada orangtua Paket A; coaching Portofolio Bakat setiap bulan.
Talent Management in Education (TME) dapat diterapkan di semua jalur pendidikan, jadi tidak harus informal atau nonformal, bahkan formal juga dapat menerapkan program ini. Saya memiliki contoh anak yang sekolah formal, program TME nya berjalan lancar. Tentu syaratnya orang tua membersamai anak sesuai dengan pola dan tahapan TME yang ada.
TME memiliki pola dan tahapan. Pola disini dapat diartikan cara kerja terstruktur, jadi TME memiliki cara kerja terstruktur di setiap tahapan. Pola ini sudah teruji sejak tahun 2015 hingga saat ini. Sebagaimana lazimnya suatu manajemen, selalu melewati siklus perencanaan, pelaksanaan, pengorganisasin dan evaluasi. Demikian juga dengan TME.
Terdapat tiga pola/cara kerja yaitu:
1. PERENCANAAN: disebut sebagai PROGRAM STIMULATION yang tujuannya melakukan eksplorasi diri dengan perencanaan aktivitas produktif untuk membaca sinyal-sinyal keberminatan dan keberbakatan sekaligus sebagai bentuk aktualisasi diri.
2. PELAKSANAAN: disebut sebagai PROGRAM ASSESSMENT yaitu proses pelaksanaan observasi, pengetesan dan penilaian bakat
3. PENGORGANISASIAN & EVALUASI: disebut sebagai PROGRAM DEVELOPMENT yaitu pengorganisasian & evaluasi program pengembangan bakat, potensi dan kekuatan diri menjadi rintisan karir atau mematangkan karir
Ketiga cara kerja/pola tersebut hadir di semua tahapan yaitu TME level 1, TME level 2, maupun TME level 3. Sekali lagi level tersebut tidak ada kaitannya dengan usia, jalur pendidikan maupun gender. Setiap individu benar-benar khas di jalurnya masing-masing. Bahkan semakin beragam jalur pendidikan yang dialami individu tersebut makin kaya wawasan dan pengalamannya.
Misalnya TME level 1 yang ujungnya adalah menjadi individu “Accepting Talent” artinya setelah melalui serangkaian stimulasi dan assessment bakat, individu tersebut benar – benar menerima dengan tulus karakter unik di dirinya yang siap diolah sebagai potensi kekuatan.
Individu yang sudah dengan ikhlas, terbuka dan menerima karakter uniknya tersebut dengan sadar mengolahnya sehingga hidupnya produktif. Kenampakan dari individu yang telah “Accepting Talent” ini ceria, optimis, siap menerima tugas.
Bisa jadi orang dewasa belum Accepting Talent, sibuk menyangkal, menghindar meskipun dari stimulasi dan assessment sudah nampak jelas hasilnya. Bisa jadi anak usia belasan sudah matang dan siap fokus mengolah potensinya karena proses Accepting Talent nya sudah tuntas sejak dini.
Ada hal penting yang sering menjadi kesalahan umum di cara kerja mengelola talent yaitu langsung loncat ke Assessment sebelum melakukan stimulasi bakat. Sehingga program developmentnya tidak berjalan sesuai karakter unik individu. Biasanya orang tua terburu-buru ingin cepat tahu bakat anaknya dengan instan bahkan kalau bisa langsung menebak cita-cita anak.
Tanpa anak diberi kesempatan melakukan aktivitas 3B (Beragam, Berulang-ulang, Beriteraksi dengan banyak orang) maka anak tidak kunjung memahami kebutuhan dirinya apalagi menemukan dirinya. Ini dikarenakan orang tuanya sudah menggunakan hasil assessment sebagai acuan harga mati. Orang tua menjadi hilang sense membaca data anak, padahal setiap gerak anak itu data yang Allah sebarkan untuk dibaca.
Jadi, “isilah” anak dengan beragam aktivitas, kayakan brain memory dan muscle memory nya sebelum melakukan pengetesan bakat (assessment) pada anak. Intinya anak jangan kosongan, karena anak bukan kertas kosong!
#abhomemytalent
#ABhome
Komentar
Posting Komentar