Langsung ke konten utama

rukun bakat

RUKUN BAKAT
Kiat menemukan misteri bakat
Oleh: Ustadz Abdul Kholiq
Pendiri Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS)-Semarang 
--------------------------------------
Banyak orang yang bingung dengan dirinya
Banyak orang yang bingung dengan jurusan studinya
Banyak orang yang bingung dengan jurusan studi anaknya
Banyak orang yang bingung dengan ketidaknyamanan kinerjanya
Sebenarnya mereka semua bingung dengan misi hidupnya
Disamping misi hidup untuk beribadah kepada Allah ta’ala, setiap manusia mendapatkan amanah untuk mengemban misi sebagai pemakmur bumi (1).
Misi hidup sebagai pemakmur bumi inilah yang unik, setiap orang berbeda-beda tabiat dan perannya  (syakilah) (2).
Peran sebagai pemakmur bumi terkait dengan kinerja.
Kesempurnaan kinerja terkait dengan kebermanfaatannya.
Kebermanfaatan kinerja seseorang terkait dengan bakat uniknya.
Namun menemukan bakat tidak semudah membalik telapak tangan, karena pada asalnya bakat adalah terpendam pada jiwa masing-masing manusia.
Bakat akan tergali dengan melakukan banyak ragam aktifitas (3), sehingga setiap orang akan dapat merasakan aktifitas manakah yang merupakan bakatnya dan yang bukan bakatnya.
Sebuah aktifitas atau kinerja dapat dikatakan sebagai bakat seseorang jika aktifitas atau kinerja tersebut memenuhi 3(tiga) rukun yang disingkat 3A, yaitu:
1. sukA (Al hirshu الحرص)
2. bisA (Al itqaanu الاتقان)
3. bergunA (Al mufiidu المفيد)
Jika ketiga rukun tersebut ada pada aktifitas yang dilakukan, maka aktifitastersebut adalah BAKAT.
Jika salah satu dari rukun bakat tersebut tidak ada pada sebuah aktifitas, maka aktifitas tersebut bukanlah bakat, bisa jadi aktifitas tersebut berupa profesi, hobby, atau mimpi.
Beda antara
BAKAT, PROFESI, HOBI, MIMPI
Terdapat perbedaan yang jelas jika seseorang dalam melakukan kinerja, apakah kinerja tersebut dinamakan bakat, keahlian, hobi, atau mimpi. Hal ini dapat dilihat dari adanya rukun bakat yang terkandung pada kinerja tersebut.
1. BAKAT   (المَوْهِبَةُ)
Sebuah kinerja disebut bakat jika didalamnya terkandung ketiga-tiganya dari 3 (tiga) rukun bakat, yaitu pelakunya suka, bisa, dan hasilnya berguna.
Seseorang yang berbakat pada suatu kinerja tersebut, akan merasa senang, bergairah, bersemangat,  dan profesional dalam melakukannya, sehingga mudah melakukan dan hasilnya berkualitas, serta kinerja tersebut menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, negara, atau agama, menurut ukuran syariat.
BAKAT  =  SUKA + BISA + BERGUNA
2. PROFESI (المِهْنَةُ)
Seseorang yang berprofesi dalam suatu bidang kinerja belum tentu disebut berbakat di dalamnya, walaupun dia bisa mengerjakannya dengan mudah, dan hasilnya bermanfaat. Jika dia tidak menyukai bidang kinerja tersebut, maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut hanya memiliki profesi atau keahlian saja,  tetapi bukan bakat yang dimilikinya pada bidang tersebut.
PROFESI  =  BISA + BERGUNA – SUKA
3. HOBI (الهِوَايَةُ)
Hobi adalah aktifitas yang dilakukan seseorang karena kesukaaan dan kemahiran di dalamnya. Tetapi aktifitas tersebut  tidak mengahasilkan sesuatu yang bermanfaat.
HOBI  =  SUKA + BISA – BERGUNA
4. MIMPI (التَّمَنِّي)
Mimpiadalah kesukaan untuk meraih sesuatu yang bermanfaat, meskipun dalam melakukan aktifitas tersebut tidak mahir, bahkan tidak mampu berbuat apapun. Maka hal ini tidak akan merubah makna dari mimpi tersebut, karena mimpi hanyalah angan-angan untuk meraih sesuatu walau tanpa aktifitas kinerja.
MIMPI = SUKA + BERGUNA – BISA
# Pendidikan Karakter Nabawiyah
Catatan kaki:
(1) Allah ta’ala berfirman:
هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya”. (QS. Hud : 61)
(2) Allah ta’ala berfirman:
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلاً
“Katakan (Muhammad) bahwa setiap orang akan berbuat sesuai (bakat) pembawaannya, maka Robbmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS. Al Isra’ : 84)
(3) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
“Berkemauan keraslah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu,  dan minta tolonglah kepada Allah,  dan janganlah engkau lemah”. (HR. Muslim no. 2664)
Nabi memerintahkan kepada umatnya untuk  berkemauan keras dalam melakukan aktifitas-akifitas  yang bermanfaat baginya, dan memiliki kemampuan dalam melakukannya sehingga tidak lemah, dan minta tolonglah hanya kepada Allah.
Dalam hal ini termasuk bersemangat dalam melakukan kinerja yang memberikan kebermanfaatan.
1. SUKA (الحرص)
Makna Al hirsu secara bahasa adalah:
الحِرْصُ : شدّةُ الإِرادة والشَّرَه إِلى المطلوب(المعجم: لسان العرب)
"Al hirshu: kemauan keras dan rakus kepada yang diinginkan”. (kamus: lisanul ‘arab)
Seseorang dikatakan berbakat pada kinerja yang dilakukannya, diantaranya jika dia merasakan al hirshu, yaitu merasa bergairah, bersemangat,senang, waktu terasa mengalir lebih cepat, dan setelah selesai melakukannya ada kerinduan untuk mengulanginya kembali.
2. BISA (الاتقان)
Makna al itqanu  adalah
إتقان العمل: أداؤه على أكمل وجه ‏(المعجم: مصطلحات فقهية)
”Melakukannya dengan totalitas”. (kamus: mushthalahatu fiqhiyyah)
Dari makna tersebut, al itqanu dapat diartikan dengan istilah profesionalisme.
Seseorang dapat disebut berbakat pada aktifitas atau kinerja tertentu, diantaranya jika dia profesional pada aktifitas atau kinerja tersebut. Dia akan melalukannya dengan mudah dan hasilnya akan menjadi sempurna (bagus).
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اِنَّ اللهَ يُحِبُّ اِذَا عَمِلَ اَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah menyukai seseorang jika bekerja, dia bekerja dengan profesional” (Shahih Al Jami’ Ash Shaghir: 1880)
3. BERGUNA (المفيد)
Al mufidu dalam kamus disebutkan,
مفيد:ذو فائدة (المعجم: اللغة العربية المعاصر)
“Memiliki  kegunaan” (kamus: al lughatul ‘arabiyyatul mu’ashir)
Sebuah aktifitas atau kinerja tertentu disebut bakat jika memiliki kegunaan atau bermanfaat. Tentu saja kebermanfaatannya diukur berdasar tuntunan syariat agama Islam. Kebermanfaatan ini dapat untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, negara, dan agama baik bersifat sosial, komersial, fisik, maupun non fisik. Jika aktifitas tersebut tidak memiliki kebermanfaatan secara syar’i, maka aktifitas tersebut bukanlah disebut bakat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Diantara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat”. (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976)
Hal yang tidak bermanfaat (mubah) saja diperintahkan untuk ditinggalkan, apalagi yang melanggar syariat. Maka berdasar rukun bakat ini, tidak ada bakat yang tidak bermanfaat dan bertentangan dengan syariat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan berbasis Fitrah untuk Tahap Usia 7 – 10 Tahun

Prinsip Prinsip Pendidikan berbasis Fitrah untuk Tahap Usia 7 – 10 Tahun Oleh Ust Harry 1. Pahami Fitrah Perkembangan untuk tahap ini dengan baik. Tahap ini adalah fase dari konsepsi berkembang menjadi potensi. Ini masa  latih awal dimana anak sudah boleh diperintah atau adab sudah disampaikan sebagai perintah. Allah memerintahkan orangtua agar menyuruh anak anak mereka sholat ketika berusia 7 tahun. Perintah sholat adalah penanda dimulainya fase pre aqilbaligh awal, inilah perintah untuk beradab kepada Allah. Di Fase ini juga anak sudah menyadari adanya dunia sosial di luar dirinya, menyadari adanya kehidupan dan adanya aturan di atasnya. Kemampuan belajar dan bernalar mencapai masa emasnya di usia ini. 2. Fitrah keimanan pada fase ini bergerak meningkat dari Konsepsi Tauhid Rubbubiyatullah, kepada kesadaran Potensi untuk Tunduk kepada Allah (Tauhid Mulkiyatullah), yaitu sejalan dengan perkembangan fitrah sosialnya serta fitrah belajar dan bernalarnya maka anak disadarkan...

bolen pisang premium

Resep bolen pisang Persiapan isian : Goreng pisang dgn margarine 1. Membuat kulit. Ttgi +gula halus+ buyer/margarin+telur +air. Aduk.. Aduk 1/2 kalian. Bagi menjadi 20 2. Pelapis margarin+minyak+ ttgi+ aduk rata. Pindahkan ke plastik, simpan di kulkas. Bagi menjadi 20 2. Pasangkan adonan kulit +pelapis. (Pelapis dibungkus bahan kulit) Dibuat bentuk bola.  3. Digilas, dilipat 3 sebanyak 3x. Istirahatkan adonan 15-20 menit. Digilas diisi dgn isian. Dilipat amplop. Lalu dilapisi dgn olesan (1 kuning telur+1-2 sdh susu cair).  4. Panggang pada suhu 180oC 35-45 menit Resep by Calista kitchen

hak-hak syar'ie anak

Untuk mengingat kembali hak anak yang harus kita penuhi ketika usianya 0-7 th *HAK-HAK SYAR'IE ANAK* Oleh: Ustad Aad Pada setiap diri manusia tersanding di dalamnya hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban ini telah Allah tetapkan atas makhlukNya. Sehingga bersifat syar'ie : Ada hak syar'ie... Ada kewajiban syar'ie... Banyak yang tak tahu atau lupa, bahwa ALLAH MENDAHULUKAN HAK DARIPADA KEWAJIBAN Maka DR Abdul Karim Zaidan pernah berkata : "Berakhlaqlah seperti Allah : Dia penuhi hak-hak Adam, setelah itu baru ia tuntut kewajiban untuk tak mendekati pohon Khuld" Secara mengejutkan DR Abdullah Nasih 'Ulwan dalam kitabnya "Hak Asasi dalam Islam"(: berkata tegas) الحق الاساسي في الاسلام "ISLAM LEBIH MENGUTAMAKAN HAK DARIPADA KEWAJIBAN", karena : Pertama, hak itu nama Allah Kedua, hak itu artinya kebenaran Ketiga, hak itu bermakna esensi (hakikat) Keempat, hak itu juga berarti kewajiban. Seperti : "Hak Muslim atas Muslim ada lima" Mak...