Langsung ke konten utama

Guru merdeka

Oleh Wicak Armadeo.

UTOMO DANANJAYA

Guru yang Tak Mudah Ditaklukkan

UTOMO Dananjaya merupakan kawan bicara yang menyenangkan. Ia diberi gelar SUHU dalam PENDIDIKAN para aktivis, sebuah kegiatan yang digelutinya sejak 1960-an. Ia ramah dalam pergaulan, tua dan muda jadi sahabatnya. Salah satu kebanggaan Utomo adalah kebiasaan cucu-cucunya untuk menanyakan kepada orangtuanya, apakah uang atau barang yang dibawa ke rumah hasil korupsi atau bukan.

Ia mengajari muridnya membaca dan menulis, tidak dengan cara mengeja sesuai pakem. Ia memulainya dengan memperkenalkan kata-kata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari muridnya. Tentu saja tidak sesuai paket.

Cara itu cukup jitu untuk membuat murid-muridnya cepat bisa membaca dan menulis. Namun, guru muda itu bukannya disanjung, tetapi justru mendapatkan teguran.

PENGALAMAN itu bukan satu-dua kali. Puncaknya terjadi saat pelajaran olahraga. Utomo tanpa sungkan-sungkan menelungkupkan badannya di lantai, meminta semua muridnya di kelas 1 meloncatinya satu per satu.

Anak-anak itu senang bukan kepalang. Namun, Utomo justru mendapat kecaman dari kepala sekolah dan kolega guru di sekolahnya. Ia dianggap merendahkan martabat guru.

Hanya enam bulan Utomo bertahan di SD. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) di Bandung. Setamat PGSLP ia balik ke Garut, mengajar di sebuah SMP negeri.

Utomo tidak kapok bereksperimen dengan cara mengajar yang kreatif dan menyenangkan. Dalam pelajaran sains, ia mengajak murid-muridnya mengadakan berbagai macam percobaan, tanpa harus menunggu ada laboratorium. Akibatnya, kelas Utomo dicap sebagai kelas yang selalu menimbulkan kegaduhan.

Puncak perselisihan dengan kepala sekolah terjadi pada saat ia bereksperimen tentang perubahan bentuk zat dengan murid-muridnya. Ia mengajak murid-muridnya bereksperimen membekukan air dengan membuat es puter, sejenis es krim yang dibuat melalui proses tradisional.

Eksperimen tersebut dilakukan pada hari Minggu. Karena kesulitan memutar tabung, Utomo menyuruh anak-anak itu menggelindingkan tabung di lantai. Keesokan harinya lantai yang sehari sebelumnya dipergunakan sebagai tempat eksperimen masih meninggalkan garis-garis kotoran yang sulit dibersihkan. Di depan murid-muridnya, Utomo dimarahi oleh kepala sekolahnya.

Utomo masih bertahan menjadi guru sampai delapan tahun kemudian di SMP Negeri 5 Bandung. SEKOLAH FORMAL memang TIDAK memberikan RUANG pada GURU KREATIF seperti Utomo. Akhirnya, Utomo memutuskan berhenti menjadi guru di sekolah formal gara-gara pertengkaran dengan kepala sekolah soal penerimaan murid baru.

"Sudah cara mengajarnya begitu-begitu saja, masih pilih kasih. Sekolah memang rusak, saya memutuskan berhenti. Saya seolah-olah bersumpah, tidak akan menggunakan ijazah untuk melamar pekerjaan," kata Utomo, yang akrab dipanggil Mas Tom itu.

BERPISAH dari sekolah formal, Utomo tidak berhenti menjadi guru. Bertahun-tahun Utomo menjalani hidupnya sebagai pelatih dalam latihan-latihan kepemimpinan Pelajar Islam Indonesia (PII), sebuah organisasi Islam yang berorientasi pada modernitas.

Pada tahun 1960-an organisasi itu telah mengadopsi metode-metode pelatihan partisipatoris, yang menekankan pada aspek penyadaran peserta, yang masih populer diterapkan dalam pelatihan-pelatihan organisasi nonpemerintah hingga saat ini. Baru belakangan kemudian pendidikan kritis model Paulo Freire dikenal di Indonesia.

Pengalaman yang andal dalam melatih kader-kader PII itu mengantarkan Utomo pada pekerjaan yang cukup bergengsi, sebagai Koordinator Pelatihan di Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES). Di situlah Utomo menyemaikan bibit-bibit aktivis organisasi nonpemerintah yang menyebar di seluruh Indonesia.

Salah satu murid Utomo adalah almarhum Mansour Fakih, aktivis organisasi nonpemerintah dan pendiri Institute for Social Transformation (Insist) di Yogyakarta. Sesekali Utomo diminta memberikan pelatihan kepada guru, tetapi ia tidak pernah lagi diundang setelah mengeluhkan honorarium yang sangat kecil.

Utomo kembali bersentuhan dengan dunia pendidikan formal saat merintis pendirian Sekolah Tinggi Wiraswasta bersama sejumlah tokoh nasional. Pada tahun 1979 ia diajak Tutty Alawiyah mendirikan Sekolah Tinggi Assyafiiyah dan memimpin perguruan tinggi tersebut selama beberapa tahun.

Utomo kemudian bergabung dengan Nurcholish Madjid dan sejumlah tokoh Muslim lainnya mendirikan Yayasan Paramadina, sebuah lembaga dakwah yang membidik sasaran kelas menengah atas. Utomo merupakan tokoh di belakang layar yang menggerakkan lembaga dakwah itu antara 1986 sampai 1994.

Kakek delapan orang cucu ini juga terlibat dalam pendirian Universitas Paramadina. Universitas itu lahir dari diskusi sejumlah aktivis yang tergabung dalam milis Islamic Network yang mencoba mewujudkan mimpi sebuah universitas yang baik.

Utomo sempat menjabat sebagai direktur pelaksana universitas tersebut. Tidak berhenti di situ, Utomo menyodorkan gagasan untuk mendirikan program pascasarjana pendidikan guru profesional dengan pendekatan nonkonvensional. Gagasan itu mental sehingga Utomo memilih mendirikan organisasi nonpemerintah yang bergerak dalam bidang pendidikan, Institute for Education Reform.

UTOMO seorang yang ahli dalam mengajar meski ia bukan seorang sarjana. Ia belajar tidak hanya dari buku, tetapi juga dari pergaulan dan dari pengalaman. Keahlian itu ditularkannya kepada para aktivis dan calon-calon guru. Di Fakultas Tarbiyah, Sekolah Tinggi Assyafiiyah, Utomo mengajar mata kuliah Kreativitas yang kemudian diubah dengan nama mata kuliah Media Pembelajaran.

Ia sumber inspirasi bagi orang- orang muda yang mau belajar. Di Garut, Utomo memberikan pelatihan kepada anak-anak muda calon guru dan aktivis pendidikan kritis mengenai cara mengajar yang menyenangkan. Ia mengajak anak-anak muda itu bermain, mengalami, berdialog, dan mengambil kesimpulan tentang cara mengajar yang menyenangkan.

"Jangan hanya diomongkan. Biarkan murid menunjukkan, mencoba, dan menceritakan. Tunjukkan dan ceritakan, show and tell," ujarnya. Mas Tom, Andalah guru yang dicari-cari.

(P Bambang Wisudo)

Sumber : Kompas, Jumat, 03 Juni 2005

.

Utomo Dananjaya atau lebih dikenal dengan sebutan Pak Tom, adalah sosok yang sangat menjunjung tinggi ilmu. Sedari kecil ia ingin menjadi guru, dan hal itu diraihnya setelah menamatkan pendidikan guru di IKIP Bandung. Ia menjadi guru SMP di Garut dan Bandung selama 9 tahun dan harus meninggalkan karir mengajarnya saat ia bergabung dengan Pelajar Islam Indonesia. Saat menjadi ketua PII inilah ia berubah dari Islam ekstrimis ke Islam moderat. PII juga bekerjasama dengan American Field Services (AFS) yang mengirimkan kandidat terbaiknya untuk tinggal di Amerika bersama tuan rumah disana selama setahun. Taufiq Ismail, tokoh pendidikan Arief Rahman, mantan menteri Tanri Abeng, dan pebisnis Soegeng Sarjadi adalah sedikit dari banyak anak bangsa yang mengikuti program ini.

Utomo juga dikenal dengan sebutan "Master of Training" di Lembaga Penelitian, Pendidikan, Studi Sosial dan Ekonomi. Ia melatih berbagai kelompok aktivis dari berbagai organisasi non-pemerintah.

Utomo selalu terdorong untuk membentuk tokoh-tokoh muda penerus bangsa. Ia juga merupakan seorang pendidik yang blak-blakan dan seorang pemikir yang kritis. Cara berpikirnya sedikit banyak dipengaruhi oleh Ivan Illich dan Paolo Freire.

Ia mengungkapkan bahwa pendidikan di Indonesia sudah menurun drastis. Saat ini pendidikan sudah dikuasai oleh orang-orang yang terobsesi dengan kekuasan, tidak oleh orang-orang yang benar-benar memiliki pengetahuan, pengalaman, dan komitmen di bidang pendidikan.

Idealismenya kemudian mendapat tantangan yang belum pernah ia hadapi sebelumnya, di lembaga yang dibentuknya sendiri, Universitas Paramadina. Ia dipaksa menerima kenyataan ketika apa yang dianggapnya sebagai tingkat pendidikan konvensional yang lebih rendah digunakan dalam program pascasarjana di universitas tersebut. Ia memutuskan untuk mengundurkan diri dan membentuk Lembaga Reformasi Pendidikan yang masih berada dalam satu universitas. Salah satu misinya adalah untuk mengadvokasi pengembangan profesi guru dan otonomi dengan memberikan kebijakan pendidikan alternatif. Beberapa asosiasi seperti Forum Guru Independen Indonesia dan Forum Pendidikan merupakan salah satu di antara sekian banyak yang didukung olehnya.

https://www.merdeka.com/utomo-dananjaya/

.

Sepanjang hidupnya, Utomo mendedikasikan dirinya untuk pendidikan. Ia pernah menjadi guru SD dan SMP di Jawa Barat. Akan tetapi kariernya menjadi guru di sekolah formal terhenti di tahun-tahun awal karena gaya mengajarnya yang “hiper-kreatif”.

Meski cukup singkat, pengalaman Utomo mengajar di SD dan SMP cukup dahsyat. Sebagai guru, ia tidak pernah kapok bereksperimen dan menemukan metode mengajar yang kreatif, menyenangkan tetapi sekaligus mengasah anak berpikir kritis. Tidak pernah kapok karena eksperimentasinya itu lebih sering membuat ia dikucilkan, dikecam, dan mendapatkan teguran daripada pujian.

Utomo sangat piawai dengan berbagai bentuk permainan dan metode pembelajaran kreatif. Dengan tangan kosong, ia sanggup membuat kelas menjadi hidup. Ia menyuruh murid-muridnya memukul-mukul meja. Dari suara tidak beraturan, Utomo meminta anak-anak memukul sambil mendengarkan. Dalam waktu singkat komposisi perkusi pun dihasilkan. Adegan itu mirip seperti Pak Guru Matheuw saat memperkenalkan musik di sekolah untuk anak-anak bermasalah dalam film Perancis Les Choristes.

Banyak cerita menarik yang saya dengar langsung dari Pak Utomo. Ia mengajar anak-anak membaca di kelas 1 SD dengan kata-kata sehari-hari yang dikenal anak, mirip dengan cerita Paulu Freire – tokoh pendidikan kritis dari Brazil – belajar membaca dari orangtuanya. Aksi “gila” Utomo terjadi begitu saja saat ia mengajar olahraga. Tanpa ragu ia menelungkupkan diri di lantai dan meminta murid-murid melompatinya. Anak-anak senang bukan kepalang tapi sebaliknya, kepala sekolah dan guru-guru yang lain mengecamnya karena dianggap merendahkan martabat guru.

Sebagai guru muda, Utomo sangat mencintai murid-muridnya. Ia pernah bercerita, seorang murid perempuannya sering ke sekolah tidak mandi, badannya dekil, berpakaian kotor, baunya bukan main. Kawan-kawan sebayanya selalu menghindar. Tanpa ragu-ragu, Utomo justru memeluk dan murid itu. Rupanya, sang anak menceritakan pada ibunya. Sejak peristiwa itu, anak tersebut selalu mandi sebelum berangkat sekolah. Pakaiannya pun bersih.

Karena pembangkangan dalam pakem mengajarnya itu Utomo terpental dari SD tempat ia mengajar hanya dalam kurun waktu enam bulan. Lulus dari Sekolah Guru B, ia mengajar sebagai guru SMP di Garut. Di sana lagi-lagi ia menjadi guru pembuat masalah. Ia ditudung sebagai biang pembuat kegaduhan gara-gara suka mengajak murid-muridnya bereksperimen sains tanpa ada laboratorium.

Suatu saat ia mengajak murid-muridnya bereksperimen tentang perubahan bentuk zat. Ia mengajak murid-muridnya membekukan air dengan membuat es puter saat libur sekolah hari Minggu. Karena kesulitan memutar tabung, ia menyuruh anak-anak menggelindingkan tabung itu di lantai. Esoknya, tabung itu meninggalkan garis-garis kotor di lantai yang sulit dibersihkan. Utomo pun kena damprat dari kepala sekolah, dilakukan di depan murid-muridnya pula.

Tak tahan ia kemudian berpindah mengajar ke  SMP Negeri 5 di Bandung. Akan tetapi eksperimen kreatif memang tidak mendapatkan ruang di sekolah formal. Utomo akhirnya memutuskan berhenti mengajar di sekolah untuk selama-lamanya setelah ia bertengkar dengan kepala sekolah karena urusan penerimaan murid baru. “Sudah cara mengajarnya begitu-begitu saja masih pilih kasih. Sekolah memang rusak, saya memutuskan berhenti,” kata Utomo.

Di luar sekolah, Utomo justru mendapatkan tempat. Setelah lepas dari profesinya sebagai guru, ia memimpin organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). Sejak itu ia menjalani hidupnya sebagai pelatih dalam pelatihan kepemimpinan di organisasi itu. Ia memperkenalkan metode-metode pelatihan partisipatoris, penyadaran, yang populer diterapkan dalam pelatihan-pelatihan organisasi nonpemerinah saat itu.

Dari situlah Utomo kemudian menjadi seorang suhu dalam pelatihan, yang dikukuhkan dengan posisinya sebagai koordinator pelatihan di Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES). Ratusan aktivis telah dilahirkannya, termasuk almarhum Mansour Fakih, aktivis dan pendiri Institute for Social Transformation (Insist) yang bermarkas di Yogyakarta.

Nama Utomo terpateri di benak para aktivis terutama berkat buku Paulo Freire yang diterjemahkannya bersama sejumlah koleganya di LP3ES dengan judul Pendidikan Kaum Tertindas pada 1984. Buku ini dicetak ulang enam kali, terakhir 2011. Saya pertama mengenal Utomo Dananjaya juga dari buku ini, yang saya peroleh pada pertengahan 1980-an dalam bentuk fotokopi. Saya mempelajari kembali Paulo Freire pedagogi kritis saat saya menjadi jurnalis bidang pendidikan pada awal 2000-an. Pedagogi kritis kemudian menjadi kacamata saya dalam menulis tentang.

Belakang hari, bersama kawan-kawan Koalisi Pendidikan dan Sekolah Tanpa Batas, saya mencoba memperkenalkan pedagogi kritis pada guru-guru sekolah formal. Yang mengherankan bagi saya, Paulo Freire dan pedagogi kritis tidak dikenal oleh sebagian besar guru sekolah formal di Indonesia dan tidak diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan calon guru. Tokoh-tokoh pendidikan kritis asli Indonesia, seperti Ki Hadjar Dewantara, Tan Malaka, Muhammad Sjafei juga nyaris tak disentuh.

Saya mengenal Pak Utomo lebih sebagai aktivis dan pejuang pendidikan. Suatu kali, saya bersama sejumlah aktivis mahasiswa mengundang Utomo untuk memberikan pelatihan pendidikan kritis di Garut. Ia mengajar tanpa berceramah. Salah satu yang dilakukannya, ia meminta peserta pelatihan mengumpulkan air mineral dalam kemasan gelas dari berbagai merk. Ia lalu meminta peserta menebak-nebak berapa volume air dalam gelas-gelas plastik itu dan mencocokkannya dengan ukuran yang tertera dalam label. Setelah itu, ia mengajak peserta untuk mengukur volume air sebenarnya dengan gelas ukur. Ternyata beda satu sama lain. Itulah mengajar berpikir kritis. “Kita memang jarang mempertanyakan dan berpikir kritis,” kata Utomo.

Seingat saya, Pak Utomo sangat jarang mengutip pemikiran Freire maupun tokoh-tokoh pendidikan kritis lainnya. Utomo lebih tertarik pada metode pembelajaran kreatif dan berpikir kritis daripada pedagogi kritis. Itulah yang kemudian agak menjauhkan Utomo dengan kami di Koalisi Pendidikan dan Sekolah Tanpa Batas.

Kami selalu ingat kritik Tan Malaka tentang guru-guru yang “mabuk metode”. Pendidikan kritis, bagi kami, bukan sekedar berpikir kritis tetapi juga penyadaran dan aksi sebagai respon terhadap situasi penindasan atau ketidakadilan. Dalam kacamata pedagogi kritis, eksperimen Utomo dengan air mineral perlu diteruskan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti: Mengapa sekarang masyarakat kita lebih suka minum air kemasan? Siapa yang diuntungkan dengan ini? Apa yang bisa kita lakukan agar air dari sumur bisa kia minum lagi?

Tentu saja ini tidak sedikitpun mengurangi hormat saya dan sumbangan Pak Utomo dalam pendidikan di Indonesia. Utomo yang saya kenal merupakan salah satu orang terdepan yang memperjuangkan dikembalikannya otoritas dan kemerdekaan guru, pendidikan tanpa diskriminasi, hak orang miskin untuk pendidikan yang berkualitas, penghapusan Ujian Nasional, dan reformasi pendidikan secara umum. Suara lantang yang digaungkan Utomo memang belum membuat pendidikan Indonesia kembali di jalan yang benar, sesuai yang diamanatkan oleh konstitusi ataupun yang dicita-citakan oleh para perintis pendidikan nasional.

http://www.satuharapan.com/read-detail/read/obituari-utomo-dananjaya-dan-pendidikan-kritis

Salah satu masalah sentral dalam pendidikan Indonesia adalah guru, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.

Utomo Dananjaya, seorang praktisi dan aktivis pendidikan, mengatakan sebagai pengajar, guru seharusnya mengutamakan siswa belajar, dan menjadi aktor. "Guru mungkin peduli skenario pembelajaran dan harus menjadi sutradara dalam kelas. Tapi dia seharusnya tidak lebih terkenal dari pada muridnya, seperti sutradara tidak lebih terkenal dari pemeran utama dalam sebuah film," ujar Utomo dalam peluncuran buku terbarunya, Media Pembelajaran Aktif, di kampus Universitas Paramadina, Jakarta, Selasa (21/12/2010).

Menurut salah satu pendiri Universitas Paramadina tersebut, guru seharusnya tidak menonjolkan dominasinya sebagai guru, tetapi harus mendorong siswanya lebih aktif dalam belajar. Media Pembelajaran Aktif merupakan buku keempat Utomo setelah Pendidikan Kaum Tertindas, Belajar dari Pengalaman, dan Sekolah Gratis.

Pria yang akrab disapa Mas Tom itu juga menyampaikan perlunya reformasi pendidikan. Menurutnya, reformasi pendidikan adalah perubahan paradigma pendidikan, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa demi kemerdekaan, perikeadilan, dan perikemanusiaan. Ada tiga hal yang tercakup dalam reformasi pendidikan ini, yaitu pertama mengutamakan proses pembelajaran, agar siswa aktif mengembangkan potensi dirinya. Bukan pengajaran, bimbingan, dan pelatihan. Kedua, mengutamakan tujuan membangun manusia berbudaya, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membangun martabat bangsa, bukan menyiapkan tenaga siap pakai. Terakhir, reformasi pendidikan harus mengutamakan suasana belajar yang menyenangkan dan membebaskan agar peserta didik kreatif dan percaya diri, bukan suasana yang suram dan mencekam.

Paparan Utomo tentang reformasi pendidikan tersebut disampaikan lewat secarik kertas. Teks sengaja ditulis dengan berbagai kesalahan ketik. Direktur Institute for Education Reform (IER) itu kemudian meminta salah satu peserta untuk maju dan membacakan teks tersebut. Meski penuh kesalahan, seorang peserta yang maju mampu membaca teks dengan baik. "Inilah yang dinamakan media pembelajaran aktif. Ia bukan alat peraga, namun sekadar alat untuk berpikir. Dan guru pun bukanlah operator, melainkan kreator pembelajaran," ujar pria 74 tahun itu. Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan menyatakan, yang terpenting dalam menangani berbagai masalah pendidikan adalah sikap. "Apakah kita akan mengecam kegelapan atau menyalakan lilin?" ujarnya beranalogi. Dia berharap, upaya Utomo dalam membantu mencari solusi pendidikan tidak hanya menjadi lilin, tetapi obor dalam dunia pendidikan. Guru Besar Emeritus dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof. Tilaar menilai, buku ini memberi inspirasi tentang pendidikan kritis yang seharusnya diterapkan di Indonesia. "Seharusnya, dalam paradigma mengenai pendidikan kritis, pendidik dan anak didik adalah peneliti," tutur Tilaar.Dia melihat, sistem pendidikan nasional (sisdiknas) Indonesia masih "memenjarakan" anak didik, salah satunya dengan ujian negara yang mematikan kreativitas anak.

https://news.okezone.com/read/2010/12/21/373/405719/utomo-dananjaya-guru-bukan-operator-tapi-kreator

Kesalahan terbesar persekolahan menurut Mas Tom adalah kalau persekolahan tersebut membuat anak kehilangan kreatifitasnya, daya nalarnya dan kekritisannya. Mas Tom membenci penyeragaman. “Suruh anak didik menggambar, maka hasilnya akan sama: Jalan lurus, di kiri-kanan petakan sawah, dan gunung kembar dengan matahari di tengah-tengahnya. Suruh anak didik mengarang, hasilnya pun akan sama: Berlibur ke rumah nenek!” Contoh sederhana bagaimana sekolah telah “berhasil” menyeragamkan pola pikir anak tersebut menjadi titik berangkat Mas Tom dalam menguliti dunia pendidikan di Indonesia.

Dalam artikelnya “Dari Bebas Sekolah ke Sekolah Bebas “ (halaman 13-20) Mas Tom membedah kekeliruan Visi, Misi, Tujuan, Metode, Kurikulum dan Guru. Bahkan Mas Tom meragukan bahwa persekolahan di Indonesia saat ini masih memiliki ideologi (halaman 39). Di artikel “Guru ditelan UU SIsdiknas” (halaman 126-135), Mas Tom membongkar kekeliruan UU Sisdiknas. Lebih lanjut, pada artikel-artikel lainnya, Mas Tom – yang adalah pensiunan guru SMP, menelanjangi kesalahan-kesalahan cara mengajar dan cara mengevaluasi proses belajar, khususnya EBTANAS dan nama lainnya, sekolah hanya untuk menyiapkan murid supaya siap kerja, dan sekolah sebagai tempat pendidikan korupsi. Pengalamannya dilarang mengajar dengan cara yang berbeda saat beliau masih menjadi guru, membuat semangatnya meledak-ledak dalam mengkritisi proses belajar di kelas, yang menurut beliau sudah ‘keblinger’.

http://baltyra.com/2014/12/30/utomo-dananjaya-dan-pendidikan-indonesia/

.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan berbasis Fitrah untuk Tahap Usia 7 – 10 Tahun

Prinsip Prinsip Pendidikan berbasis Fitrah untuk Tahap Usia 7 – 10 Tahun Oleh Ust Harry 1. Pahami Fitrah Perkembangan untuk tahap ini dengan baik. Tahap ini adalah fase dari konsepsi berkembang menjadi potensi. Ini masa  latih awal dimana anak sudah boleh diperintah atau adab sudah disampaikan sebagai perintah. Allah memerintahkan orangtua agar menyuruh anak anak mereka sholat ketika berusia 7 tahun. Perintah sholat adalah penanda dimulainya fase pre aqilbaligh awal, inilah perintah untuk beradab kepada Allah. Di Fase ini juga anak sudah menyadari adanya dunia sosial di luar dirinya, menyadari adanya kehidupan dan adanya aturan di atasnya. Kemampuan belajar dan bernalar mencapai masa emasnya di usia ini. 2. Fitrah keimanan pada fase ini bergerak meningkat dari Konsepsi Tauhid Rubbubiyatullah, kepada kesadaran Potensi untuk Tunduk kepada Allah (Tauhid Mulkiyatullah), yaitu sejalan dengan perkembangan fitrah sosialnya serta fitrah belajar dan bernalarnya maka anak disadarkan...

bolen pisang premium

Resep bolen pisang Persiapan isian : Goreng pisang dgn margarine 1. Membuat kulit. Ttgi +gula halus+ buyer/margarin+telur +air. Aduk.. Aduk 1/2 kalian. Bagi menjadi 20 2. Pelapis margarin+minyak+ ttgi+ aduk rata. Pindahkan ke plastik, simpan di kulkas. Bagi menjadi 20 2. Pasangkan adonan kulit +pelapis. (Pelapis dibungkus bahan kulit) Dibuat bentuk bola.  3. Digilas, dilipat 3 sebanyak 3x. Istirahatkan adonan 15-20 menit. Digilas diisi dgn isian. Dilipat amplop. Lalu dilapisi dgn olesan (1 kuning telur+1-2 sdh susu cair).  4. Panggang pada suhu 180oC 35-45 menit Resep by Calista kitchen

hak-hak syar'ie anak

Untuk mengingat kembali hak anak yang harus kita penuhi ketika usianya 0-7 th *HAK-HAK SYAR'IE ANAK* Oleh: Ustad Aad Pada setiap diri manusia tersanding di dalamnya hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban ini telah Allah tetapkan atas makhlukNya. Sehingga bersifat syar'ie : Ada hak syar'ie... Ada kewajiban syar'ie... Banyak yang tak tahu atau lupa, bahwa ALLAH MENDAHULUKAN HAK DARIPADA KEWAJIBAN Maka DR Abdul Karim Zaidan pernah berkata : "Berakhlaqlah seperti Allah : Dia penuhi hak-hak Adam, setelah itu baru ia tuntut kewajiban untuk tak mendekati pohon Khuld" Secara mengejutkan DR Abdullah Nasih 'Ulwan dalam kitabnya "Hak Asasi dalam Islam"(: berkata tegas) الحق الاساسي في الاسلام "ISLAM LEBIH MENGUTAMAKAN HAK DARIPADA KEWAJIBAN", karena : Pertama, hak itu nama Allah Kedua, hak itu artinya kebenaran Ketiga, hak itu bermakna esensi (hakikat) Keempat, hak itu juga berarti kewajiban. Seperti : "Hak Muslim atas Muslim ada lima" Mak...