BELAJAR dan PENDIDIKAN
Oleh Wicak Armadeo
BELAJAR itu ...
Saat usia 0-2 tahun, BELAJAR merasakan cinta dan kasih sayang AyahBunda yang Merawat Fitrah dengan ASI dari Bunda sejak lahir, merasakan cinta dan kasih sayang Ayah yang mendukung Bunda memberikan ASI dan menyediakan MPASI serta merasakan masa disapih hingga usia 24 bulan ...
Saat usia 3-6 tahun, BELAJAR merasakan cinta dan kasih sayang AyahBunda yang Merawat Fitrah hingga merasakan jelasnya Jatidiri sebagai manusia Lelaki atau manusia Perempuan. BELAJAR merasakan air, merasakan udara, merasakan tanah, merasakan hebusan angin, merasakan gelap, merasakan terang, merasakan kehadiran makhluk-makhluk ciptaan Sang Maha Pencipta. BELAJAR menikmati hadirnya DIRI sebagai INDIVIDU bagian dari ciptaan-Nya di alam semesta ...
Saat usia 7 sampai 10 tahun, BELAJAR menjadi INDIVIDU sebagai bagian dari Makhluk SOSIAL. BELAJAR merasakan ALAM SEMESTA sebagai RUANG BELAJAR yang dianugerahkan Sang Maha Pencipta. BELAJAR merasakan anugerah Syaakilah melalui beragam aktivitas yang akan menjadi pijakan menjalani Misi Hidup yang dikaruniakan Sang Maha Pencipta. Jatidiri sebagai LELAKI atau PEREMPUAN makin jelas dan menguat seiring tumbuh kembangnya Fitrah, Potensi dan Karakter dengan Peran dan Kehadiran Ayah dalam kehidupan Sang Lelaki muda, serta Peran dan Kehadiran Bunda dalam kehidupan Sang Perempuan muda.
Saat usia 11 hingga 14 tahun, BELAJAR menjadi Manusia BERPERAN dengan aktivitas yang menumbuhkan Fitrah, Potensi dan Karakter seiring dengan tibanya masa Baligh sebagai Penanda Penting dari Sang Maha Pencipta sebelum memasuki Masa Dewasa. Sang LELAKI Muda mampu mensyukuri Anugerah Seksualitasnya dengan BELAJAR memahami Dunia Perempuan bersama Bundanya. Sementara Sang PEREMPUAN Muda mampu mensyukuri Anugerah Seksualitasnya dengan BELAJAR memahami Dunia Lelaki bersama Ayahnya. Pemahaman ini membuat mereka BELAJAR untuk mampu berpikir dan bertindak Saling Menghargai satu sama lain.
Alangkah BAHAGIANYA para Manusia Muda yang diasuh dan dididik oleh AyahBunda SADAR yang memahami cara mendidik manusia dan mampu membimbing putra-putrinya merintis karir sejak dini, serta menjadikan putra-putrinya MANUSIA KAYA yang kaya wawasan, kaya kegiatan, kaya gagasan, kaya pengalaman, kaya persahabatan dan kaya pilihan hidup. Inilah hakikat BELAJAR yang menjadikan MANUSIA MUDA sebagai makhluk MERDEKA.
Selanjutnya, saat tiba usia 15 tahun, Sang LELAKI Muda dan Sang PEREMPUAN Muda sudah siap BELAJAR lahir batin menjalani kehidupan sebagai MANUSIA DEWASA MUDA yang melekat dalam dirinya semua HAK dan KEWAJIBAN sebagai MANUSIA DEWASA. Dengan Fitrah, Potensi dan Karakter yang sudah tumbuh dan berkembang, saatnya telah tiba untuk BELAJAR Memperkuat Skills dan Knowledge yang mendukung KARIR untuk masa depannya.
Manusia yang kerap dilabeli "cerewet" akan makin kentara perannya berdasarkan potensinya untuk menjadi orator, story teller, negosiator atau diplomat. Manusia yang kerap dilabeli "keras kepala" makin kentara perannya berdasarkan potensinya untuk menjadi pemimpin dan penegak keadilan. Manusia yang kerap dilabeli "cengeng" makin kentara perannya berdasarkan potensinya untuk menjadi sastrawan atau seniman. Manusia yang kerap dilabeli sering "curiga" dan "perhitungan" mungkin makin kentara perannya berdasarkan potensinya untuk menjadi manajer keuangan, financial planner atau auditor. Manusia yang kerap dilabeli "tak bisa duduk tenang" mungkin makin kentara perannya berdasarkan potensinya untuk menjadi penari dan koreografer, atau olahragawan hebat. Manusia yang kerap dilabeli "suka melamun" makin kentara perannya berdasarkan potensinya untuk menjadi akademisi dan peneliti. Manusia yang kerap dilabeli suka "mengutak-atik benda dan membongkar-pasang benda hingga berantakan" makin kentara perannya berdasarkan potensinya untuk menjadi engineer atau insinyur. Begitu seterusnya. Masa Eksplorasi yang lebih luas untuk karirnya akan berlangsung hingga usia 24 tahun.
Saat usia 25 tahun itu tiba, masa Establishment adalah masa BELAJAR yang dijalani dalam KARIR yang berkembang dan makin memantapkan Peran dan Karya bagi Peradaban. Masa ini berlangsung hingga usia 44 tahun.
Dalam masa ini, umumnya Manusia Dewasa memasuki tahapan kehidupan penting yaitu membangun keluarga penerus generasi melalui PERNIKAHAN atau PERKAWINAN. Sang LELAKI dan Sang PEREMPUAN telah bersepakat dan memutuskan untuk BELAJAR melahirkan peradaban penerusnya. Segala dinamikanya adalah Ruang BELAJAR bagi mereka.
Saat memasuki usia 45 tahun, saat itu tibalah Masa Maintenance dalam KARIR dengan Peran dan Karya yang sudah tersebar manfaatnya dalam peradaban hingga mencapai usia 65 tahun, bahkan lebih. Inilah masa yang menjadi jalan untuk BELAJAR SEPANJANG HAYAT sebagai MANUSIA MERDEKA.
#bimbinganbelajarparipurna
#belajarsepanjanghayat
#ruangbelajarseluasalamsemesta
#pendidikanperadaban
PENDIDIKAN AGAR MANUSIA BAHAGIA
Sejatinya, Misi Pendidikan itu bukanlah Membangun Karakter, tetapi justru MEMBANGUNKAN Karakter.
Karakter adalah Potensi yang telah ter-install bersama terciptanya seorang manusia. Karenanya, dalam proses pendidikan, karakter atau potensi itu dibangunkan agar tumbuh dan berkembang bagaikan benih tanaman. Dirawat, dipupuk, disirami, diperkuat imunitasnya agar terhindar dari dampak buruk hama dan penyakit.
SETIAP MANUSIA DILAHIRKAN SEMPURNA dengan segala keunikannya. Setiap manusia memiliki kebutuhan khusus. Talents Mapping membantu mengidentifikasi potensi keunikan setiap manusia. Mendampingi tumbuhnya potensi manusia agar menjadi versi terbaiknya melalui karya dan peran. Itulah peran Sekolahalam melalui para fasilitatornya.
Hakikatnya, pendidikan hendaknya berujung pada kebahagiaan manusia. Bahagia berperan dan berkarya sesuai Misi atau Panggilan Hidupnya. Pendidikan yang dipraktikkan dengan menyamakan dan menyeragamkan manusia serta mengabaikan potensi dan keunikan manusia adalah Pendidikan yang Melawan Hukum Alam dan Sunatullah.
Pasal 12 Ayat 1 Undang Undang Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) menyatakan, Setiap PESERTA DIDIK pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan Pelayanan PENDIDIKAN sesuai dengan BAKAT, MINAT, dan KEMAMPUANNYA.
Sekolah adalah lembaga pendidikan formal. Seorang anak berhak menjalani Pendidikan secara menyeluruh, baik Formal, Non Formal, maupun Informal, yang dijamin UU Sisdiknas. Memperluas kesempatan belajar hendaknya dilakukan dengan Program Pendidikan Keluarga, Program Pendidikan Masyarakat dan Program Belajar di Sekolah, bukan memperbanyak Pekerjaan Sekolah yang merampas Waktu Anak di Rumah yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan potensi dan bakatnya agar semakin kuat dan melahirkan karya-karya dan peran-peran untuk peradaban masa depannya.
MASALAHNYA adalah SEKOLAH
Banyak orang tidak mengira bahwa masalah yang paling serius dalam pendidikan Indonesia saat ini justru terlalu banyak sekolah. Masalah ini muncul saat kita mulai menyamakan pendidikan dengan persekolahan. Wajib belajar diartikan wajib sekolah. Ada asumsi kuat bahwa semakin lama bersekolah pasti makin baik karena semakin terdidik.
Oleh karena itu semakin banyak sekolah didirikan, dan semakin banyak anggaran digelontorkan di sektor pendidikan dengan harapan masyarakat akan semakin terdidik. Orang dengan gelar makin panjang berarti makin kompeten dan terdidik.
Padahal yang semakin kita lihat di lapangan justru sebaliknya : tawuran pelajar dan antar-warga makin sering terjadi, gangguan mental dan kejiwaan akibat terpapar gadget berlebihan, pornografi dan narkoba merajalela, intoleransi meningkat, korupsi merebak di mana-mana. Rumah Tangga Tani justru lenyap di negara yang dalam sejarahnya disebut negara agraris. Rumah Tangga Nelayan di negara bahari tak menjadi cita-cita generasi muda keturunan nelayan yang turun temurun hidup di kawasan bahari. Semakin banyak anggota DPR dan birokrat dengan gelar master dan doktor, bahkan profesor, tapi DPR adalah lembaga paling korup.
Kesalahan sekolah terbesar adalah kecenderungannya untuk memberi kesan dan pesan sebagai satu-satunya tempat belajar. TK merasa terganggu dengan Pos PAUD Terpadu non-formal yang menjamur. Anak yang tidak bersekolah dicap terbelakang, tidak terdidik dan kampungan. Anak nelayan dan petani usia bersekolah tidak boleh pergi membantu keluarganya pergi ke laut atau ke sawah pada jam sekolah, karena ke laut atau ke sawah membantu orangtua bekerja dianggap bukan kegiatan belajar. Bahkan lebih serius lagi, mengajak anak-anak ini bekerja dinilai melanggar hak anak. Bahkan istilah anak muncul setelah lembaga sekolah diciptakan pada zaman revolusi industri di Inggris. Menjadi dewasa berarti keluar dari sekolah. Sekolah menjadi produsen remaja baperan, berkebalikan dengan sejarah peradaban di berbagai belahan dunia yang masyarakatnya mendidik para generasi mudanya menjadi pemuda pemudi berperan.
Apakah Anda yakin Guru di Sekolah akan dengan tekun melakukan observasi dan mengidentifikasi BAKAT dan POTENSI yang dianugerahkan Sang Maha Pencipta kepada putra putri Anda?
TALENT
Saat mempelajari Konsep Talent, umumnya kita sulit membedakan apa yang disebut BAKAT dan apa yang disebut POTENSI. Perbedaan talented dan gifted masih kurang jelas.
Saat mempelajari lebih lanjut, kita akan makin bisa membedakan Bakat dan Potensi. Bakat yang dimaksud adalah TALENT, dan biasanya berupa kata sifat untuk menjelaskan PERSONALITY seperti Senang Menata, Penuh Gagasan, Senang Memajukan Orang Lain, Berani Berkonfrontasi dsb. Bagaimana dengan Potensi? Biasanya berupa aktivitas atau Kata Kerja, misalnya Sifat Senang Menata, maka Potensi nya adalah Menata Ruangan, Mengawasi dsb.
Jika sifatnya misalnya Senang Melayani dan Senang Memajukan Orang Lain maka Potensi kekuatannya bisa berupa Mengajar, Mendidik atau Memimpin dsb.
BAKAT --> POTENSI, di atas belum sampai kepada PERAN atau KARIR atau PROFESI atau cabang bisnis, masih banyak kemungkinan. Bisa saja misalnya untuk Potensi Mendidik, maka karir atau profesinya bukan Guru atau Coach, namun yang lain, misalnya manajer pengembangan personalia atau pendiri yayasan pendidikan anak.
Seseorang diharapkan bisa menemukan BAKAT dan POTENSI dalam dirinya selama perjalanan hidupnya. Umumnya, tidak akan bergeser jauh dari area cluster bakatnya.
Apa yang terjadi dengan Hugh Herr adalah karena ia memiliki "personality productive" atau BAKAT seorang yang pantang menyerah / achiever, responsibility (kelompok bakat excuting), analytical, learner, ideation (kelompok bakat strategic thinker), empathy, developer (kelompok bakat relationship building).
Kita bisa simak dari Table Cluster bakat yang dibuat Gallup.
BAKAT itu kemudian akan tampak pada potensi BIDANG, yaitu sebagai rock climber dan tampak pada potensi PERAN yaitu orang yang suka meneliti, suka mewujudkan gagasan, suka melihat orang lain berkembang dsb.
Dari sifat produktif yang sama itu maka bisa berkembang menjadi beberapa potensi lalu kemudian bertemu dengan berbagai cita-cita dan problematika. Kemudian berujung pada pemilihan skill dan knowledge yang mendukung PERAN atau CITA-CITA.
Jadi urutannya adalah diawali dari menemukan BAKAT (Personality productive) --> menggali POTENSI (bidang/peran) --> Realitas individual / sosial --> pemilihan KEAHLIAN dan PENGETAHUAN (Skill & Knowledge) yang pendukung --> KARYA.
KARIR ANAK
Dalam mendampingi anak, hendaknya kita tidak bertanya kepada mereka “apa cita-citamu”, tetapi lebih banyak bertanya “apa yang ingin kamu lakukan?” Lalu ditarik ke depan lagi menjadi “mengapa kamu ingin melakukan aktivitas itu?”
Dalam teori Self Concept Career Development (Donal Edwin,1994 dan Linda Gottfredson, 2008) itu nyaris benar adanya. Dalam teori SCCD tersebut, karir hendaknya dikelola yang secara singkat seperti berikut:
1. Usia 3-5 tahun sebagai fase Growth Size & Power Orientation
2. Usia 6-8 tahun sebagai fase Growth Sex Roles Orientation
3. Usia 9-13 tahun sebagai fase Growth Social Values Orientation
4. Usia 14-24 tahun sebagai fase Exploration
5. Usia 25-44 tahun sebagai fase Establishment
6. Usia 45-65 tahun sebagai fase Maintenance
Dalam konsep karir, pada fase exploration (usia 14-24th) anak harus meningkatkan pemahaman tentang karir yang dikaitkan dengan minat dan bakatnya. Anak juga harus diberi kesempatan banyak mencobakan dan mengkristalkan dalam aktivitas terstruktur. Di ujung fase itu anak mengimplementasikan hasil kristalisasinya sebagai pilihan karir.
Pembahasan konsep dasar cara berpikir bagaimana membangun karir yang ideal sejak dini akan optimal untuk orangtua yang sudah mengenal Talents Mapping (TM).
SCCD harus berangkat dengan modal diri yang kuat terkait pemahaman mengolah potensi, pemetaan bakat utamanya Talents Mapping (TM), ketuntasan diri (sebagai orangtua) dan kejernihan melihat sumber daya yang dimiliki: waktu, tenaga, pikiran, perasaan, dana, ruang dan waktu. Tanpa itu semua, materi SCCD akan membuat panik, mati gaya, mati langkah, padahal Allah SWT sudah menjamin bahwa kita adalah orang terbaik untuk mendampingi anak-anak kita.
Sebaliknya, jika kita berangkat dengan kesadaran perlunya menyiapkan diri dengan perlahan dan bertahap, maka SCCD akan sangat ringan dipraktekkan untuk mengawal karir anak sejak dini.
Bagaimana dengan Anda dan putra putri Anda?
Ada 3 jenis orangtua
1. Orangtua NYASAR adalah yang tak tahu cara mendidik anak, apalagi mempersiapkan karir anak.
2. Orangtua BAYAR adalah yang fokusnya hanya nilai sekolah, ranking di sekolah, orientasi hanya sekolah unggul, medali kejuaraan, piala lomba, dst.
3. Orangtua SADAR memahami cara mendidik anak dan mampu membimbing putra-putrinya merintis karir sejak dini, serta menjadikan putra-putrinya ORANG KAYA, yaitu kaya wawasan, kaya kegiatan, kaya gagasan, kaya pengalaman, kaya persahabatan dan kaya pilihan hidup.
Bagaimana dengan Sekolah dimana putra putri Anda menjalani hari-harinya yang disebut sedang mengikuti pendidikan di sekolah?
Jika Guru di Sekolah menyatakan bahwa Bakat dan Potensi siswa dikembangkan di Sekolah, perlu dibuktikan dengan Program Pengembangan Bakat dan Potensi yang diterapkan di Sekolah, Metode yang digunakan, Tahapan yang diterapkan dan Skema Penilaian dan Evaluasi Perkembangannya.
Apa yang hendak Anda lakukan setelah menyadari KENYATAAN ini?
Selamat menjalankan AMANAH sebagai ORANGTUA yang telah mendapat KARUNIA dari Sang Maha Pencipta berupa TITIPAN Manusia dengan BAKAT dan POTENSI dalam dirinya untuk ditumbuhkembangkan agar dapat menjalankan PERAN dengan KARYA-KARYA dalam PERADABAN masa depannya dengan BAHAGIA.
-Belajar Bersama Maestro-
#pendidikanmenjadipembahagia
#menjadiorangtuasadar
#pendidikanperadaban
.
Komentar
Posting Komentar