Kontemplasi dan Refleksi Fitrah
Subhanallah virus sekecil itu membuat dunia "lumayan" kembali kpd fitrah kesejatiannya.
Lihatlah fitrah bumi atau fitrah alam kembali membaik, polusi dan emisi karbon menurun drastis, air sungai dan tanah bisa lebih tenang dari guyuran limbah pabrik krn sebagian pabrik tutup, pohon2 dan taman kota bisa bernafas lebih lega karena kendaraan tak lagi memadati jalan kota dstnya.
Burung burung pagi di sekitar rumah saya, nampak lebih bahagia dan ceria. Celoteh mereka saya rasakan tambah ramai dari sebelumnya. Mungkin karena langit lebih bersih dan bising kendaraan bermotor tidak lagi terdengar.
Lihatlah fitrah keluarga kembali "lumayan hangat" , meja makan yang dulu hanya tempat singgah sebentar sebelum berangkat kerja dan sekolah, kini hangat kembali oleh cengkrama dan senda gurau anak dan pasangan yg libur agak panjang di rumah mungkin sampai Iedul fitri nanti.
Secara fitrah personal, mungkin kita lumayan banyak waktu untuk kontemplasi, refleksi sekaligus koreksi perjalanan hidup selama ini. Mungkin fitrah keimanan kita selama ini hanya robotik dan mekanistik tanpa ghairah dalam beribadah dan dakwah, hanya rutinitas semu. Mungkin banyak waktu untuk merencanakan misi hidup sebagai bagian dari keimanan, lalu merencanakan untuk mewujudkannya.
Mungkin fitrah intelektual kita kembali terkoreksi dengan model belajar jarak jauh yang tak biasa kita lakukan, mungkin kita lebih banyak membaca dan belajar hal hal yang bermakna dan filosofis bagi kehidupan daripada ilmu ilmu pekerjaan dan teknis semata.
Mungkin fitrah bakat kita kembali punya ruang untuk digali kembali, jangan jangan selama ini kita bekerja pada bidang atau profesi yang bukan keunikan sifat kita. Kita mungkin punya waktu merenung agar kelak menjalani profesi yang lebih relevan dengan sifat unik bahkan selaras dengan misi hidup.
Secara fitrah jasmani, mungkin kita kini jauh hidup lebih fitri. Rajin cuci tangan sudah pasti, hati hati memilih makanan yang higienis sudah pasti. Jadi rajin gerak dan berjemur karena khawatir imunitas melemah pasti dijabani.
Secara fitrah sosial, barangkali kita lebih bisa menurunkan ego dan menguatkan kepedulian sosial kita untuk berbagi walau bagi kalangan menengah masih tipis antara menimbun untuk diri dan untuk berbagi.
Mungkin fitrah seksualitas dan generatif kita, atau fitrah keayahbundaan kita kembali terkoreksi hebat selama membersamai anak dan pasangan di rumah. Selama ini nampak tak ada konflik, tenang tenang saja, lalu kini ketika lebih sering bertemu ternyata ada banyak konflik yang selama ini hanya terpendam tanpa solusi. Kesibukan rutinitas bekerja dan berkarir, menutup pintu bagi membuat solusi yang mengakar bagi hubungan hubungan harmonis dengan anak dan pasangan.
Sejujurnya saya mendengar lebih banyak konflik dan jeritan jeritan dari tetangga kiri kanan, ketika mereka lebih banyak bersama di rumah.
Adakah Kita Mau Kembali kepada Fitrah setelah semua ini reda?
Ketika badai wabah ini reda, adakah kita ingin kembali kepada kehidupan yang Fitri?? Apakah semua akan kembali terasingkan dan menjauh dari fitrah, sampai kemudian wabah yang lebih besar datang?
Paska wabah, krisis ekonomi mungkin menerpa. Mungkin kita akan kembali berpacu dalam melody sumbang mengejar dunia, kembali menggegas anak anak, kembali menghalau kehangatan keluarga demi karir dan kembali hidup berlawanan dengan fitrah fitrah di atas.
Lalu sampai kapan kita akan kembali kepada Fitrah kita? Menunggu Iedul Fitri lalu semua kembali menjauh dari kehidupan yang fitri lalu kita mati?
#fitrahworldmovement
#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife
Komentar
Posting Komentar