Resume hasil belajar dari guru kehidupan saya tentang bakat, passion dan kebahagiaan. Semoga bermanfaat... 🙏😊🙏
*RESUME WORKSHOP PANDU 45*
Saat ini, perusahaan - perusahaan modern mulai berubah menjadikan kantornya seperti taman bermain, sebagaimana yang terjadi di kantor Google, kantor Facebook dan lainnya. Tujuan dibuat kantor yang nyaman layaknya produktivitas dan kualitas kerja serta meningkatkan kreativitas karyawan agar muncul ide-ide baru yang segar dengan kantor yang nyaman, makanan dan snack yang sudah disediakan perusahaan, taman yang sejuk dengan ratusan hewan dan juga arena games untuk merefresh pikiran jika jenuh.
Dan ini justru berbanding terbalik dengan dunia sekolah dimana ruang – ruang kelas di sekolah yang seharusya tidak terlalu formal tapi malah seperti ruang kantor dengan banyak sekat dan meja kursi yang rapi. Sehingga malah nampak membosankan.
Karena itu di rumah, seharusnya kita menjadikan rumah kita sebagai taman belajar yang nyaman untuk mendidik anak-anak kita dengan istilah *”Learning By Teaching”*.
Dalam kita mendidik anak-anak, salah satu kewajiban orang tua adalah menuntun mereka untuk menemukan tentang jatidirinya, karakternya, sampai mereka menemuan bakat apa yang anak-anak enjoy, easy, excellent dan earn (4E) di dalam bidang tersebut. Karena setiap anak dilahirkan dengan kehebatan bakat masing-masing.
Ketika kita mengatakan bahwa buah yang paling disukai adalah “JERUK”, maka pastinya kita pernah mencoba berbagai macam buah-buahan yang lain, seperti mangga, pepaya, alpukat, melon, semangka dan lainnya. Sampai kita merasakan bahwa “JERUK” ini adalah buah yang paling kita suka daripada buah-buahan yang lain.
Maka demikian juga dengan bakat, ketika kita mengatakan pada anak-anak bahwa anak kita menyukai bidang “SENI”, maka kita harus mencobakan berbagai ragam bakat dahulu kepada anak anak. Jangan terlalu cepat melabel dan menstempel suatu bakat kepada anak usia dini karena dia terlihat jago di suatu bidang tanpa anak diberi kesempatan terlebih dahulu untuk mengenal jenis ragam bakat di bidang yang lain. Dalam membantu menemukan bakat anak di konsep PANDU 45, terdapat 30 klaster bakat terkait peran dan 15 klaster bakat terkait bidang
Kita bisa belajar pada Elon Musk tentang perjuangannya dalam meraih sukses dengan bakat yang dimilikinya. Dimana ketika kecil Elon Musk banyak dibully oleh teman-teman di sekolahnya karena dia seorang kutu buku dan berbadan pendek. Ketika awal-awal menekuni kesukaannya mengotak-atik mobil, mencari barang rongsokan untuk memodifikasi mobil ibunya dan mengumpulkan berbagai macam accecoris hardware komputer, tetangganya juga sempat mengatakan bahwa Elon Musk adalah anak yang aneh dan buang-buang waktu. Sampai dia menemukan bakatnya di bidang tekhnik, dipadu dengan tekhnologi. Dan akhirnya dia sekarang dikenal menjadi pengusaha sukses karena membuat sebuah produk mobil listrik mewah bernama *”TESLA”* dan juga perusahaan tekhnologi antariksa yang menyediakan transportasi berpetualangan keluar angkasa bernama *SPACE X”*.
Maka ada beberapa hal yang harus kita pegang pakemnya dalam memandu bakat anak, yaitu :
*1. Jangan peduli apa kata orang.*
Ketika anak-anak kita mencoba mengeksplorasi bakatnya di bidang tertentu, yang terkadang ini tidak umum dan kelihatan sia-sia, maka selama anak suka dengan ekspresi matanya yang berbinar-binar, maka jangan pedulikan apa kata orang tentang anak kita.
*2. Penderitaan itu bisa jadi rahmat.*
Seringkali orang tua memanjakan anak-anak dengan berbagai fasilitas sehingga banyak anak-anak yang mudah putus asa, kurang kreatif, manja dan lembek. Maka kita sebagai orang tua harus belajar untuk tega ketika anak diuji dengan penderitaan. Orang tua harus melatih anak-anak untuk menjadi anak yang tangguh, ulet, kreatif dalam menghadapi masalah.
*3. Jangan terlalu cepat memberi label bakat tertentu*
Maka di awal ketika kita mengeksplorasi bakat anak, cukup catat dulu setelah observasi, dan nanti bisa jadi ada revisi. Dan tentukan batas waktu dengan mengkonfirmasi sampai batas usia berapa dia mau berani mengeksplorasi bakatnya sendiri tanpa orang tua. Bisa 14 tahun, 15 tahun, 16 tahun atau usia berapapun di sekitar usia aqil balighnya. Ketika berjalan nanti ada revisi tidak masalah, yang penting harus jelas alasannya.
Konsep untuk membersamai anak dalam memandu bakatnya adalah :
1. Banyak main bareng
2. Banyak ngobrol bareng
3. Banyak berkegiatan bareng.
Dalam PANDU 45, dasar dalam menerapkannya adalah :
1. Open mind
2. Observe and accept
3. Growing togheter
Dalam pencarian bakat, “EARN” itu adalah tujuan yang terakhir. Yang penting kita bahagia dulu dengan aktivitas yang kita lakukan. Karena pada akhirnya secara perlahan jika kita bahagia dengan yang kita.
Belajar dari kisah Pak Dodik dan Bu Septi dalam perjalanan hidupnya. Ketika mau menikah, Pak Dodik sempat membuat Bu Septi mempertimbangkan keputusan yang berat. Karena waktu itu Bu Septi yang sudah diterima bekerja sebagai PNS di dinas kesehatan, SK baru saja diterima. Tapi Pak Dodik memberi pernyataan yang berat.
_"Aku ingin anak-anak kita nanti dididik oleh ibunya sendiri, bukan oleh pembantu, bukan pula oleh nenek kakeknya_
Dan itu artinya Bu Septi harus merelakan pekerjaannya sebagai PNS dan hanya diberi waktu untuk berpikir selama 5 detik dan dalam hitungan ke empat bu septi menyatakan, siap!
Sampai ketika awal menikah dulu di tahun 1998 terjadi krisis moneter, Pak Dodik yang bekerja di Depok perusahaannya hampir bangkrut dan terancam di PHK. Kemudian Pak Dodik ditawari bekerja di perusahaan lain dengan jabatan dan gaji yang lebih besar.
Tapi sebelum mengambil kesempatan itu, Pak Dodik bertanya dulu kepada Bu Septi untuk mendapat restu. Tapi Bu Septi mengatakan tidak pada tawaran menarik itu. Karena Bu Septi tidak ingin lagi Pak Dodik mengalami 13 P lagi (Pekerja, Pergi, Pagi, Pulang, Petang, Penghasilan Pas Pasan, Pinggang Pegel Pegel). Sabtu – minggu waktunya libur dan membersamai keluarga tapi karena sudah kecapekan akhirnya memilih istirahat. Sehingga itu commont enemy telah ditetapkan dengan uang pesangon yang makin lama makin habis dengan memulai kehidupan bersama mulai dari *”NOL”*.
Untuk mengenang itu, rekening di tabungan yang saldonya *”NOL”* rupiah dilaminating dan dibuatkan pigora serta ditaruh di dinding. Berjualan kain door to door dengan naik sepeda motor dengan anak ikut dibawa jualan keliling kemana-mana. Karena value keluarga adalah pendidikan yang terpenting, anak pertama dan kedua sempat 4 kali pindah TK karena ingin mencari model pendidikan terbaik. Hingga akhirnya ketiga anaknya semuanya home schooling dan meski tanpa sekolah formal, mereka bisa kuliah diluar negeri.
Bahkan untuk mengenalkan anaknya belajar berkuda, Bu Septi sampai rela menjual cincin emasnya. Sampai kemudian Allah memperjalankan untuk pindah ke Salatiga dan dari sana metode *”JARIMATIKA”* yang ditemukan Bu Septi berkembang, mulai membuat beberapa bisnis di bidang pendidikan, harta sudah lebih dari cukup, punya mobil, rumah besar.
Kini Pak Dodik dan Bu Septi sudah berada di zona nyaman, anak-anak sudah mentas semua, sekarang ingin memulai tantangan baru lagi dengan meninggalkan zona nyaman lagi pindah ke daerah terpencil, tidak dikenal orang, tidak ada jaringan, memulai hidup dari *”NOL”* lagi dengan pindah ke sebuah pulau kecil di Bau Bau. Untuk mengeskporasi diri lagi dan membuat karya-karya baru disana.
Kaya atau miskin itu biasa, jika miskin jangan terlalu didramatisir, jika kaya jangan sombong, semua di dunia ini hanya titipan. Maka itu Allah memberi nikmat sabar dan syukur. Yang penting kita bahagia ketika sudah menetapkan suatu bidang yang mana 4E (Easy, Enjoy, Excellent) sudah kita rasakan, banyak orang lain merasa kebermanfaatan diri kita, tertolong oleh diri kita, maka *"EARN"* itu akan mengikuti. Insya Allah.
*_Oleh : Igo Chaniago_
*_Hotel Sahid, Malang_
*_12012020_
Komentar
Posting Komentar