Menuliskan Legenda Keluarga Besar
(repost)
Hal yang sering dianggap tidak begitu penting adalah menuliskan sejarah keluarga besar. Padahal anak anak kita generasi Z dan Alpha bahkan Millennial adalah generasi yang "belanja pengalaman" bukan belanja barang.
Di sisi lain sejarah keluarga besar kita beserta nilai dan misi perjuangannya sangat diperlukan oleh anak dan keturunan keluarga kita untuk membangun konsep diri dan konsep hidupnya termasuk misi hidupnya di dunia.
Anak anak yang tumbuh dalam legenda hebat misi perjuangan leluhurnya akan juga hebat dalam menapaki hidupnya bahkan bergairah melanjutkan misi leluhurnya itu. Itulah mengapa dalam Islam, nashob sangat penting, namun bukan hanya silsilah (nashob) tertulis tetapi juga legenda perjuangannya.
Kisah kisah kehebatan dan ketangguhan leluhur dalam memperjuangkan misi besar keluarganya, visi besarnya seringkali hanya cerita dari mulut ke mulut yang makin lama makin pudar dan dilupakan. Ketangguhan dalam merintis kehidupannya dari nol sampai kemudian menjadi pahala manfaat bagi ummat, itu penting untuk diwariskan sebagai family legacy.
Dengan legenda keluarga besar ini akan mendorong diri kitapun untuk sangat hati hati menapaki hidup agar tidak menjadi legenda yang buruk bagi anak dan keturunan.
Kolonialisasi dan industrialisasi Menggerus Kearifan Keluarga
Sesungguhnya tiap keluarga sebagaimana individu maupun ummat itu, bukan Allah hadirkan dengan kebetulan. Setiap keluarga ada tugas spesifiknya di dunia, dalam hal ini adalah misi keluarga yang diwariskan secara turun temurun.
Sayangnya kolonialisasi dan indutrialisasi menyapu bersih keluarga dan masyarakat dari akar kesejatiannya atau misi spesifiknya juga nilai kearifan dan pengetahuannya.
Kemudian kita saksikan kearifan dan pengetahuan yang diwariskan turun temurun ketika menjalankan misi keluarga itu menjadi punah. Generasi Baby Boomers, X, Y juga Z kehilangan khazanah kearifan dan pengetahuan keluarga besar mereka dan harus memulainya lagi dari nol bahkan memulainya dari kebingungan merancang misi keluarganya.
Sering kita saksikan, ada keluarga besar turun temurun adalah Kyai atau Ulama, lalu anak dan keturunanya kini jadi pekerja atau buruh atau aparatur negara. Ada keluarga yang leluhurnya turun temurun menggeluti Kerajinan lokal seperti Batik, Ukiran dan sangat luarbiasa, tapi kini tak satupun anaknya melanjutkannya.
Ada keluarga besar turun temurun pedagang tangguh bahkan pelaut, namun kini anaknya hanya menjadi pekerja pabrik. Adalagi yang turun temurun menggeluti pertanian atau kuliner dstnya namun anak anaknya kini lebih menjalankan profesi industri yang tidak sustainable.
Sistem persekolahan buatan kolonial dan industrialisasi yang memperbudak bangsa bangsa timur, berjasa besar menggerus dan memunahkan kearifan dan misi keluarga yang sebenarnya sudah dijalankan turun temurun.
Semua anak dari semua keluarga di Indonesia sejak Indonesia merdeka digiring untuk terlepas dari akar keluarganya, akar kearifannya, akar alamnya dan sejarahnya bahkan akar nilai nilai keyakinan keluarganya yang diperjuangkan turun temurun.
Para wakil rakyat pada dapilnya masing masing maupun kepala daerah, sebenarnya kebanyakan orang orang yang tak memahami kearifan leluhurnya di daerah pemilihannya. Akhirnya tak mampu menghebatkan daerahnya atas kearifan lokalnya.
Optimisme
Zaman berganti, muncul kesadaran besar dari generasi saat ini untuk kembali kepada kesejatiannya, kembali kepada fitrah dirinya, fitrah keluarganya, fitrah desanya serta nilai nilai kearifan yang diperjuangkan leluhurnya. Kesadaran ini juga bertemu dengan kesadaran untuk menemukan misi personal maupun misi keluarganya.
Di zaman serba cepat dan disruptif serta instan seperti ini, yang bisa melayarinya dengan hebat dan berkelanjutan (sustainable) bukan cuma bertahan (survive) adalah personal maupun keluarga yang mampu menggali dan menemukan misi personal maupun misi keluarganya. Dan itu bisa dimulai dengan menuliskan kembali legenda perjuangan leluhurnya.
Dengan menggali dan kemudian menuliskan kembali legenda perjuangan kakek, kakek buyut, dstnya ke atas maka semakin memudahkan kita menemukan misi personal dan misi keluarga atau tugas keluarga kita di dunia beserta nilai nilai intinya yang mereka usung sepanjang hidupnya.
Tiada yang kebetulan di muka bumi, semua pasti ada maksudnya (purpose), dan setiap maksud pasti menghendaki Tugas atau Misi sebagai alasan kehadirannya mengapa ia harus ada di dunia. Maka temukan misi hidup kita juga misi keluarga kita. Itu bisa dimulai dengan menggali dan menuliskan legenda perjuangan keluarga besar kita sejak turun temurun, sehingga anak dan keturunan kelak mewariskan kehebatan dan kearifannya, dan jelas agar tidak digilas zaman.
Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife
Komentar
Posting Komentar