Langsung ke konten utama

Renungan Pendidikan #6

Renungan Pendidikan #6
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼

Apakah Allah swt lalai ketika mentakdirkan kedewasaan biologis seseorang di usia 13-15 tahun dan pada saat yang sama telah jatuh semua kewajiban syar'i, bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga jihad, nafkah dan kewajiban sosial lainnya?

Apakah Rasulullah SAW lalai ketika menikahkan Usamah bin Zaid ra, seorang sahabat muda ketika Rasulullah saw berusia senja, saat Usamah berusia 14 tahun?
Apakah Rasulillah SAW lalai ketika menugaskan Usamah bin Zaid ra memimpin 10000 pasukan ke Tabuk, saat Usamah berusia 16 tahun?

Kedua hal itu juga bukan kebiasaan masyarakat Arab sebelum Islam.

Itu adalah output pendidikan Rasulullah saw, pendidikan generasi aqilbaligh yang diwariskan dari generasi ke generasi sesudah wafatnya Rasulullah saw selama hampir 1400 ratusan tahun kemudian.
Usamah bukanlah satu2 nya yang mendapatkan pendidikan generasi aqilbaligh oleh Rasulullah saw, ada ratusan Sahabat-sahabat muda lainnya.

Apakah sejarah Islam lalai mencatat itu semua? Tidak. Sejarah mencatat banyak pemuda Islam berusia belasan telah memiliki peran peran dalam panggung peradaban di zamannya, telah memiliki peran peran sosial yang manfaat dan menebar rahmat.

Imam Syafi'i rahimahullah, telah menjadi Mufti (pembuat fatwa) pada usia 16 tahun, dengan karya2 yg banyak kita kenal. Alkhawarizmi telah menjadi guru besar matematika penemu beragam cara berfikir terstruktur, termasuk algoritma, pada usia 18 tahun. Muhammad alFatih telah menjadi panglima dgn membuka kota Konstaninopel di usia 19 tahun, ibnu Batutah memulai perjalanan ekspedisi ilmiahnya di usia 15 tahun, dsbnya

Bahkan sampai Abad 20 kita mengenal pejuang2 muda belasan tahun yg cemerlang dan tercerahkan di usia belasan tahun, spt Hasan al Bana, KH Ahmad Dahlan, M Natsir, Buya Hamka dstnya.

Apa makna itu semua?

Maknanya adalah bahwa pendidikan sejati adalah pendidikan yang menemani anak2 kita utk membangkitkan fitrah keimanannya, fitrah potensi uniknya masing2, sesuai fitrah tahapan perkembangan usianya, agar mampu menerima kewajiban syariah dan memiliki peran2 peradaban,  tepat ketika mereka berusia Baligh 14-15 tahun. Itulah amanah terbesar pendidikan Islam.

Adakah pendidikan Islam memiliki strategic mindset seperti itu pada hari ini?
Pandidikan Islam bukanlah pendidikan agama Islam, tetapi pendidikan yg melahirkan generasi AqilBaligh, generasi peradaban yang menyinari dunia.

Lagipula, maaf, apa gunanya belajar agama islam jika tidak pernah lahir generasi aqilbaligh yg mampu menerima kewajiban Syariah dan memiliki peran2 peradaban dengan akhlak mulia yg menebar rahmat bagi semesta,  sebagaimana mereka ditakdirkan demikian.

Mari kita rancang dan jalankan pendidikan peradaban untuk anak2 kita - generasi peradaban -generasi aqilbaligh.

Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasispotensi dan akhlak

*Harry Santosa*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan berbasis Fitrah untuk Tahap Usia 7 – 10 Tahun

Prinsip Prinsip Pendidikan berbasis Fitrah untuk Tahap Usia 7 – 10 Tahun Oleh Ust Harry 1. Pahami Fitrah Perkembangan untuk tahap ini dengan baik. Tahap ini adalah fase dari konsepsi berkembang menjadi potensi. Ini masa  latih awal dimana anak sudah boleh diperintah atau adab sudah disampaikan sebagai perintah. Allah memerintahkan orangtua agar menyuruh anak anak mereka sholat ketika berusia 7 tahun. Perintah sholat adalah penanda dimulainya fase pre aqilbaligh awal, inilah perintah untuk beradab kepada Allah. Di Fase ini juga anak sudah menyadari adanya dunia sosial di luar dirinya, menyadari adanya kehidupan dan adanya aturan di atasnya. Kemampuan belajar dan bernalar mencapai masa emasnya di usia ini. 2. Fitrah keimanan pada fase ini bergerak meningkat dari Konsepsi Tauhid Rubbubiyatullah, kepada kesadaran Potensi untuk Tunduk kepada Allah (Tauhid Mulkiyatullah), yaitu sejalan dengan perkembangan fitrah sosialnya serta fitrah belajar dan bernalarnya maka anak disadarkan...

bolen pisang premium

Resep bolen pisang Persiapan isian : Goreng pisang dgn margarine 1. Membuat kulit. Ttgi +gula halus+ buyer/margarin+telur +air. Aduk.. Aduk 1/2 kalian. Bagi menjadi 20 2. Pelapis margarin+minyak+ ttgi+ aduk rata. Pindahkan ke plastik, simpan di kulkas. Bagi menjadi 20 2. Pasangkan adonan kulit +pelapis. (Pelapis dibungkus bahan kulit) Dibuat bentuk bola.  3. Digilas, dilipat 3 sebanyak 3x. Istirahatkan adonan 15-20 menit. Digilas diisi dgn isian. Dilipat amplop. Lalu dilapisi dgn olesan (1 kuning telur+1-2 sdh susu cair).  4. Panggang pada suhu 180oC 35-45 menit Resep by Calista kitchen

hak-hak syar'ie anak

Untuk mengingat kembali hak anak yang harus kita penuhi ketika usianya 0-7 th *HAK-HAK SYAR'IE ANAK* Oleh: Ustad Aad Pada setiap diri manusia tersanding di dalamnya hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban ini telah Allah tetapkan atas makhlukNya. Sehingga bersifat syar'ie : Ada hak syar'ie... Ada kewajiban syar'ie... Banyak yang tak tahu atau lupa, bahwa ALLAH MENDAHULUKAN HAK DARIPADA KEWAJIBAN Maka DR Abdul Karim Zaidan pernah berkata : "Berakhlaqlah seperti Allah : Dia penuhi hak-hak Adam, setelah itu baru ia tuntut kewajiban untuk tak mendekati pohon Khuld" Secara mengejutkan DR Abdullah Nasih 'Ulwan dalam kitabnya "Hak Asasi dalam Islam"(: berkata tegas) الحق الاساسي في الاسلام "ISLAM LEBIH MENGUTAMAKAN HAK DARIPADA KEWAJIBAN", karena : Pertama, hak itu nama Allah Kedua, hak itu artinya kebenaran Ketiga, hak itu bermakna esensi (hakikat) Keempat, hak itu juga berarti kewajiban. Seperti : "Hak Muslim atas Muslim ada lima" Mak...