Langsung ke konten utama

Renungan Pendidikan #5

Renungan Pendidikan #5
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Apa yang disisakan dari sebuah rumah tangga atau keluarga tanpa ada aktifitas pendidikan di dalamnya?Apakah rumah kita hanya sebuah ruang hampa tempat makan dan tidur serta (maaf) mandi dan buang hajat?

Sebagaimana AlQuran akan menerangi rumah kita dengan membaca dan mentadaburinya, maka sebuah rumah tangga atau keluarga dengan aktifitas pendidikan juga akan dipenuhi cahaya.

Sebuah rumah tanpa aktifitas pendidikan di dalamnya, bagai ruang kusam dan gelap krn di dalamnya tidak ada proses saling memberi cahaya yaitu proses mendidik dan dididik, tidak ada nasehat utk saling menyadarkan dan disadarkan, begitupula tidak ada keceriaan dan kepercayaan utk saling menumbuhkan dan ditumbuhkan.

Sebuah rumah tangga bukan hanya kumpulan fisik layaknya kandang ternak, namun dia sepenuhnya lebih kepada kumpulan ruh, hati dan fikiran.

Apa jadinya jika fikiran dan hati ayah sehari hari adalah fikiran tentang pekerjaan dan masalah kantor serta hobby yg dibawa ke rumah yg menyerobot hak pendidikan anak dan keluarganya?

Apa jadinya jika fikiran dan hati anak adalah fikiran dan perasaan tentang pekerjaan dan masalah sekolah yang dibawa ke rumah, yg menyerobot hak orangtua utk mendidiknya?

Lalu apa jadinya pula jika fikiran dan perasaan bunda sehari hari adalah fikiran dan perhatian tentang pekerjaan dan masalah kantor dan rumah sehari-hari yang tidak kunjung habisnya.

Tentu saja pasti ada orangtua yg memiliki fikiran dan keinginan utk mendidik di dalam rumah, namun sayangnya wacana dan pembicaraan sekitar pendidikan adalah bukan pembicaraan tentang kesejatian sebuah pendidikan.

Pendidikan bagi banyak keluarga adalah tentang pekerjaan sekolah yg dibawa ke rumah, lalu sekolah sewenang2 memberi nama pekerjaan itu sebagai pekerjaan rumah bukan pekerjaan sekolah, padahal berbeda antara aktifitas sekolah dan aktifitas rumah.Begitulah aktifitas sekolah banyak menyerobot aktifitas rumah yg luhur yg sdh ada sejak ribuan tahun lalu.

Mindset kita tentang makna sukses pendidikan adalah makna kesuksesan berupa sekolah favorit, rangking, ijasah dan gelar yg menggantikan makna sukses pendidikan sejati yaitu utk menyadari peran penciptaan di muka bumi serta memberi manfaat yg banyak bagi sesama dan semesta.

Makna sosialisasi anak sering dimaknakan dengan makna hadirnya bersama teman-teman seumuran dalam ruang kelas seharian, yg menggantikan makna relasi sosial antar usia yang lebih luas.

Makna belajar lebih sering dimaknakan dengan kegiatan menghabiskan bahan pelajaran dan persiapan ujian, menggantikan makna belajar sejati untuk menjadi diri seutuhnya.

Makna tentang tempat belajar yang selalu diberi stigma bahwa tempat belajar terbaik hanya di sekolah saja, menggantikan semua tempat belajar yang lebih baik di muka bumi.

Fikiran ayah sehari2 ttg pendidikan anak2nya adalah menyediakan biaya sebanyak2nya agar dapat bersekolah setinggi2nya.Fikiran anak sehari2 ttg pendidikan adalah menyelesaikan pekerjaan rumah secepat secepatnya dan sebanyak2nya, lalu kuliah setinggi mungkin.Fikiran bunda sehari2 tentang pendidikan adalah memastikan sang ayah menyediakan biaya untuk sekolah dan memastikan sang anak menyediakan waktu untuk bersekolah sepenuh masa anak2 dan sepenuh masa sebelum aqilbalighnya.

Apa yang sesungguhnya diniatkan oleh mereka yang menikah bila memaknakan pendidikan seperti itu? Apakah artinya sebuah keinginan mendidik bila tanpa berwujud aktifitas mendidik anak2nya sendiri dengan pendidikan sejati yang sesungguhnya?

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi dan akhlak

*Harry Santosa*

🍂🍂

Pondok pesantren pun sering dianggap tempat paling steril, padahal sejak lama tak steril dari penularan LGBT, Narkoba, HIV, pornografi dstnya. Salah siapa?

Jangan salahkan siapa siapa. Ingat bahwa tiada anak salah gaul, yang ada adalah anak salah asuh. Anak yg tak tumbuh fitrahnya dengan baik, ia sangat rentan untuk tertular dan terpapar apapun.

Banyak anak yang fitrahnya belum tumbuh baik atau belum terpenuhi atau mengembang sempurna di rumah sudah dikirim ke pondok atau lembaga untuk "ditempa" atau "ditungku" , maka walhasil "bantet". Useless.

Di pondok pun tak banyak ruang untuk membuat fitrah mengembang, tak banyak murobby yang disediakan untuk menyentuh dan menyelami fitrah dan jiwa para santri, umumnya hanya berisi para pengajar dan beban pengajaran yang memberatkan, juga para penegak aturan yang menekan.

Pondok itu idealnya memang tempat menempa dan mencetak kader dakwah atau kader ulama dari anak anak yang fitrahnya sudah tumbuh paripurna di rumah sehingga siap ditempa.

Apa jadinya jika yang dikirim ke pondok adalah anak anak mami yang ingin disterilisasi, anak anak bermasalah atau kekurangan cinta, yang ingin dimasukkan ke UGD Nahi Munkar, anak anak yang terobsesi untuk memberi mahkota pesanan orangtuanya bukan menjadi dirinya sendiri dstnya. Kasihan para ustadz dan ustadzah harus "cuci piring" , mereka dilemma antara menghabiskan bahan ajar dan merawat fitrah atau mental dan adab.

Maka AyahBunda, setinggi apapun benteng dan bendungan kita bangun, sehebat apapun penjagaan penjara dan kuil kita siapkan untuk anak anak maka akan roboh juga dihantam gelombang kegelapan atau kezhaliman.

Maka tumbuhkan cahaya fitrah anak anak kita di rumah dengan paripurna sebelum dikirim kemanapun, karena kegelapan hanya ada ketika tiada cahaya. #fitrahbasededucation

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan berbasis Fitrah untuk Tahap Usia 7 – 10 Tahun

Prinsip Prinsip Pendidikan berbasis Fitrah untuk Tahap Usia 7 – 10 Tahun Oleh Ust Harry 1. Pahami Fitrah Perkembangan untuk tahap ini dengan baik. Tahap ini adalah fase dari konsepsi berkembang menjadi potensi. Ini masa  latih awal dimana anak sudah boleh diperintah atau adab sudah disampaikan sebagai perintah. Allah memerintahkan orangtua agar menyuruh anak anak mereka sholat ketika berusia 7 tahun. Perintah sholat adalah penanda dimulainya fase pre aqilbaligh awal, inilah perintah untuk beradab kepada Allah. Di Fase ini juga anak sudah menyadari adanya dunia sosial di luar dirinya, menyadari adanya kehidupan dan adanya aturan di atasnya. Kemampuan belajar dan bernalar mencapai masa emasnya di usia ini. 2. Fitrah keimanan pada fase ini bergerak meningkat dari Konsepsi Tauhid Rubbubiyatullah, kepada kesadaran Potensi untuk Tunduk kepada Allah (Tauhid Mulkiyatullah), yaitu sejalan dengan perkembangan fitrah sosialnya serta fitrah belajar dan bernalarnya maka anak disadarkan...

bolen pisang premium

Resep bolen pisang Persiapan isian : Goreng pisang dgn margarine 1. Membuat kulit. Ttgi +gula halus+ buyer/margarin+telur +air. Aduk.. Aduk 1/2 kalian. Bagi menjadi 20 2. Pelapis margarin+minyak+ ttgi+ aduk rata. Pindahkan ke plastik, simpan di kulkas. Bagi menjadi 20 2. Pasangkan adonan kulit +pelapis. (Pelapis dibungkus bahan kulit) Dibuat bentuk bola.  3. Digilas, dilipat 3 sebanyak 3x. Istirahatkan adonan 15-20 menit. Digilas diisi dgn isian. Dilipat amplop. Lalu dilapisi dgn olesan (1 kuning telur+1-2 sdh susu cair).  4. Panggang pada suhu 180oC 35-45 menit Resep by Calista kitchen

hak-hak syar'ie anak

Untuk mengingat kembali hak anak yang harus kita penuhi ketika usianya 0-7 th *HAK-HAK SYAR'IE ANAK* Oleh: Ustad Aad Pada setiap diri manusia tersanding di dalamnya hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban ini telah Allah tetapkan atas makhlukNya. Sehingga bersifat syar'ie : Ada hak syar'ie... Ada kewajiban syar'ie... Banyak yang tak tahu atau lupa, bahwa ALLAH MENDAHULUKAN HAK DARIPADA KEWAJIBAN Maka DR Abdul Karim Zaidan pernah berkata : "Berakhlaqlah seperti Allah : Dia penuhi hak-hak Adam, setelah itu baru ia tuntut kewajiban untuk tak mendekati pohon Khuld" Secara mengejutkan DR Abdullah Nasih 'Ulwan dalam kitabnya "Hak Asasi dalam Islam"(: berkata tegas) الحق الاساسي في الاسلام "ISLAM LEBIH MENGUTAMAKAN HAK DARIPADA KEWAJIBAN", karena : Pertama, hak itu nama Allah Kedua, hak itu artinya kebenaran Ketiga, hak itu bermakna esensi (hakikat) Keempat, hak itu juga berarti kewajiban. Seperti : "Hak Muslim atas Muslim ada lima" Mak...