Langsung ke konten utama

Renungan Pendidikan #20

Renungan Pendidikan #20
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Oleh ust. Harry Santosa

"Bukan Aib!", kata Abu Bakar RA, "...bukan aib bila seseorang tidak mengetahui sesuatu yang tidak relevan dengan dirinya".

Jika anak kita hanya suka pelajaran matematika, namun tidak suka pelajaran bahasa, atau sebaliknya, apakah masalah buat kita?
Jika anak kita tidak suka semua pelajaran, sukanya hanya "menggambar", "mengkhayal", "merenung", "mengobrol",  "memasak", "beres beres rumah", "mengumpulkan teman teman" dll , apakah masalah buat kita?

Bagi negara anak anak kita seperti di atas akan dianggap bermasalah besar, bahkan dianggap produk gagal, tidak punya masa depan.

Bagi sekolah yang memberhalakan nilai akademis, hal seperti di atas akan dinilai "sangat bermasalah", anak anak kita terancam dikeluarkan, dicap merusak prestasi, tidak layak disekolahkan dstnya.

Bagi orangtua yang obsesif, hal ini dianggap mimpi buruk, masa depan suram, mungkin dianggap musibah bagi keturunan dstnya.

Gejala bahwa seorang anak harus hebat semuanya, harus tahu semuanya melanda dunia sampai hari ini. Kompetisi adalah harga mati.

Sebuah penelitian, memberi pertanyaan, "Bila anak kita pulang, membawa rapor dengan nilai 7,9,5 dan 3, maka yang mana menjadi fokus kita?"

Penelitian itu membuktikan 78% orangtua di Eropa fokus pada nilai 5 dan nilai 3. Di Amerika 64% orangtua hanya melihat pada nilai 5 dan nilai 3.

Di Indonesia belum dilakukan penelitian, namun tampaknya tidak jauh berbeda, mungkin lebih panik.

Begitulah dunia paska era revolusi industri dan perang dunia, anak anak kita dianggap tentara yang harus mengusai semua hal secara seragam. Anak anak kita dianggap komoditas produk yang harus memenuhi standar layak jual.

Di ujung setiap rantai produksi ada QC (quality control) yang melakukan "reject" dan "accept" bagi produk, bernama Ujian Nasional.

Kita lebih suka melihat sisi negatif seseorang daripada sisi positif seseorang. Kita lebih suka mengecam kelemahan daripada menghargai kelebihan seseorang.

Cara pandang berbasis kekurangan atau "deficit/weakness based" ini melanda hampir semua orang, konon mencapai 80% warga dunia. Tak pelak lagi juga melanda kaum Muslimin.

Padahal dalam pandangan orang beriman, sejatinya segala sesuatu telah diciptakan Allah sesuai jalan suksesnya masing masing (syaqila). Orang beriman adalah mereka yang meyakini bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, telah tertanam potensi fitrahnya masing masing. Orang beriman sejatinya adalah orang yang paling menghargai potensi kekuatan atau keunikan anak2nya.

Ketahuilah bahwa berbagai penyimpangan perilaku anak dan remaja, seperti tawuran, bully, penyimpangan seksual dll adalah karena obsesi bahwa semua anak harus bisa semuanya, harus menjadi paling unggul melampaui siapapun, harus paling cerdas mengalahkan semuanya dstnya.

Anak anak kita jarang dihargai potensi keunikannya, dihargai kelebihannya. Mereka terus dikecam kelemahannya, mereka dipaksa menjadi orang lain yang dianggap lebih sukses, lebih pandai, lebih cerdas dstnya. Kita mengaku beriman namun menjadi manusia yang paling ingkar terhadap adanya potensi keunikan fitrah anak anak kita.

Anak2 dan pemuda2 yang dihargai potensi keunikan fitrah bakatnya, lalu ditemani untuk mengembangkannya akan tumbuh menjadi pemuda yang eksis jatidirinya, yang "kutahu yang kumau", yang jauh dari galau dan perasaan terbuang dan hina. Mereka disibukkan menguatkan potensi unik produktifnya secara positif.

Mari kita perbaiki keimanan dan cara pandang kita tentang potensi keunikan anak anak kita, sehingga kita mau dan mampu mensyukuri, menghargai dan menumbuhkan karunia Allah ini lalu memuliakannya dengan akhlakul karimah.

Berhentilah mengecam, berhentilah obsesif, berhentilah membanding2kan, berhentilah menambal keterbatasan anak anak kita, fokuslah pada potensi keunikan dan kekuatannya yang merupakan panggilan hidupnya, misi spesifik penciptaannya di dunia, peran spesifiknya sebagai khalifah di muka bumi. Misi yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasispotens
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan berbasis Fitrah untuk Tahap Usia 7 – 10 Tahun

Prinsip Prinsip Pendidikan berbasis Fitrah untuk Tahap Usia 7 – 10 Tahun Oleh Ust Harry 1. Pahami Fitrah Perkembangan untuk tahap ini dengan baik. Tahap ini adalah fase dari konsepsi berkembang menjadi potensi. Ini masa  latih awal dimana anak sudah boleh diperintah atau adab sudah disampaikan sebagai perintah. Allah memerintahkan orangtua agar menyuruh anak anak mereka sholat ketika berusia 7 tahun. Perintah sholat adalah penanda dimulainya fase pre aqilbaligh awal, inilah perintah untuk beradab kepada Allah. Di Fase ini juga anak sudah menyadari adanya dunia sosial di luar dirinya, menyadari adanya kehidupan dan adanya aturan di atasnya. Kemampuan belajar dan bernalar mencapai masa emasnya di usia ini. 2. Fitrah keimanan pada fase ini bergerak meningkat dari Konsepsi Tauhid Rubbubiyatullah, kepada kesadaran Potensi untuk Tunduk kepada Allah (Tauhid Mulkiyatullah), yaitu sejalan dengan perkembangan fitrah sosialnya serta fitrah belajar dan bernalarnya maka anak disadarkan...

bolen pisang premium

Resep bolen pisang Persiapan isian : Goreng pisang dgn margarine 1. Membuat kulit. Ttgi +gula halus+ buyer/margarin+telur +air. Aduk.. Aduk 1/2 kalian. Bagi menjadi 20 2. Pelapis margarin+minyak+ ttgi+ aduk rata. Pindahkan ke plastik, simpan di kulkas. Bagi menjadi 20 2. Pasangkan adonan kulit +pelapis. (Pelapis dibungkus bahan kulit) Dibuat bentuk bola.  3. Digilas, dilipat 3 sebanyak 3x. Istirahatkan adonan 15-20 menit. Digilas diisi dgn isian. Dilipat amplop. Lalu dilapisi dgn olesan (1 kuning telur+1-2 sdh susu cair).  4. Panggang pada suhu 180oC 35-45 menit Resep by Calista kitchen

hak-hak syar'ie anak

Untuk mengingat kembali hak anak yang harus kita penuhi ketika usianya 0-7 th *HAK-HAK SYAR'IE ANAK* Oleh: Ustad Aad Pada setiap diri manusia tersanding di dalamnya hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban ini telah Allah tetapkan atas makhlukNya. Sehingga bersifat syar'ie : Ada hak syar'ie... Ada kewajiban syar'ie... Banyak yang tak tahu atau lupa, bahwa ALLAH MENDAHULUKAN HAK DARIPADA KEWAJIBAN Maka DR Abdul Karim Zaidan pernah berkata : "Berakhlaqlah seperti Allah : Dia penuhi hak-hak Adam, setelah itu baru ia tuntut kewajiban untuk tak mendekati pohon Khuld" Secara mengejutkan DR Abdullah Nasih 'Ulwan dalam kitabnya "Hak Asasi dalam Islam"(: berkata tegas) الحق الاساسي في الاسلام "ISLAM LEBIH MENGUTAMAKAN HAK DARIPADA KEWAJIBAN", karena : Pertama, hak itu nama Allah Kedua, hak itu artinya kebenaran Ketiga, hak itu bermakna esensi (hakikat) Keempat, hak itu juga berarti kewajiban. Seperti : "Hak Muslim atas Muslim ada lima" Mak...