Langsung ke konten utama

Renungan Pendidikan #19

Renungan Pendidikan #19
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Oleh: Harry Santosa

Pernahkah kita mempertanyakan mengapa anak2 kita harus menjalani PG atau TK selama 3 tahun?

Mengapa anak2 kita harus menjalani SD selama 6 tahun?
Lalu mengapa anak2 kita menjalani SMP selama 3 tahun, lalu menjalani SMA selama 3 tahun?

Adakah landasan ilmiah dan risetnya? Adakah landasan syariahnya? Pernahkah menggalinya?
Mengapa kita pasrah bongkokan menerimanya? Mengapa?

Memang ada percepatan atau akselerasi sehingga bisa lebih cepat, tapi pertanyaannya tetap belum terjawab.
Mengapa ada penjenjangan demikian? Lalu mengapa kita tidak mempertanyakan?

Seorang psikolog Muslim, Malik Badri, tahun 1985 pernah ke Indonesia, beliau penulis buku "dilemma psikolog muslim", mengatakan bahwa penjenjangan itu tidak pernah bisa dibenarkan secara ilmiah. Ini hanya pengamatan psikolog barat terhadap masyarakat mereka yang kemudian masuk dalam sistem persekolahan hampir di seluruh dunia.

Lalu apa makna penjenjangan ini? Lalu mengapa kita menelan mentah mentah begitu saja, menerima sebagai sebuah keimanan?
Lupakah kita bahwa anak2 kita bagai benih tumbuhan yang memerlukan tahapan perkembangan yang benar?

Lalu perhatikan setelah masa "siswa kecil" ada masa menjadi "mahasiswa" (siswa besar) selama 4 atau 5 tahun. Apa maknanya?

Para "pemuda kuliahan" tetap dianggap sebagai anak anak walau bernama mahasiswa atau "siswa besar"?

Padahal menilik usianya, para "siswa besar" ini sudah berusia di atas 17 tahun, sudah bukan lagi berada pada fase pendidikan,, tetapi fase berkarya dan berperan.

Belajar memang sepanjang hayat, namun bagi para pemuda ini, fase belajar untuk menjadi diri seharusnya sudah selesai, mereka seharusnya berada pada fase belajar untuk melahirkan peran dan karya. Kenyataannya hampir 90% mahasiswa tidak mengenal dirinya dengan baik apalagi menjadi dewasa (aqil).

Padahal secara syariah mereka sudah jauh melampaui usia aqilbaligh, dimana seluruh kewajiban syariah dan sosial sudah jatuh di pundak mereka sejak berusia setidaknya pada usia 14 tahun ketika tibanya kedewasaan biologis.

Lalu kembali pertanyaannya adalah apa makna dan maksud penjenjangan TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi ini ?

Sesungguhnya penjenjangan ini semata mata bukan untuk kepentingan tumbuh kembang anak anak kita secara utuh, namun untuk kepentingan kapitalisme dan sosialisme yang merekayasa kelas kelas sosial tenaga kerja atau buruh.

Penjenjangan ini mencerabut generasi dari akar masyarkatnya, akar kearifan dan pengetahuannya, bahkan akar budaya dan agamanya. Umumnya anak anak kita tidak punya idea memandirikan dirinya dan masyarakatnya atas potensi2 yang ada.

Generasi kita dan anak2 kita, telah disegregasi dalam kelas2 usia mirip peternakan hewan. Masyarakat kita terkotak kotak, terkungkung dalam kotak yang tidak sesuai fitrah perkembangan manusia.

Pemuda tetap dianggap anak anak bahkan sampai selesai kuliah. Anak anak dikelompokkan dalam kelas kelas usia yang tidak boleh beranjak kecuali jika lulus naik kelas secara akademis.

Lalu dengan bangga kita menyebut sekolah sebagai tempat sosialisasi, benarkah?

Padahal anak2 kita disekat sekat dalam ruang kelas dengan anak2 seumurnya selama seharian, apakah itu sosialisasi? Siapa gegabah yang menentukan demikian, untuk kepentingan siapa?

Selama berabad abad dunia hanya mengenal kelas anak anak dan kelas pemuda. Kelas remaja (adolescene) tidak pernah dikenal sampai abad ke 19. Ini kelas yang membocahkan para pemuda selama mungkin, sampai mendekati usia 25an bahkan akan terus lebih.

Sesungguhnya sepanjang sejarah kelompok yang ada hanya kelompok tahap dididik dan tahap berkarya. Kelompok tahap anak anak dan kelompok tahap pemuda aqilbaligh. Tahap pedagogis dan andragogis.

Walau demikian, dalam keseharian sebuah komunitas atau jamaah atau desa2 yg masih murni, tetap saja sosialisasi seperti gotong-royong terjadi antar semua usia, tidak dibedakan tua dan muda.

Mari kita kritis atas tahap perkembangan ini yang merupakan fitrah manusia. Jangan biarkan anak anak kita direkayasa sebuah sistem yang menternakkan generasi.

Mari kita bangun generasi baru, generasi peradaban yang tahapan tahapan perkembangannya sesuai dengan fitrah dan sunnatullahnya.

Tidak tumbuhnya fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar secara utuh pada tahap yang benar akan menyimpangkan peran peradaban anak anak kita. Sesungguhnya Insan Kamil adalah resultansi fitrah2 itu yang tumbuh sempurna sesuai tahapan yang benar.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#pendidikanberbasispotensi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan berbasis Fitrah untuk Tahap Usia 7 – 10 Tahun

Prinsip Prinsip Pendidikan berbasis Fitrah untuk Tahap Usia 7 – 10 Tahun Oleh Ust Harry 1. Pahami Fitrah Perkembangan untuk tahap ini dengan baik. Tahap ini adalah fase dari konsepsi berkembang menjadi potensi. Ini masa  latih awal dimana anak sudah boleh diperintah atau adab sudah disampaikan sebagai perintah. Allah memerintahkan orangtua agar menyuruh anak anak mereka sholat ketika berusia 7 tahun. Perintah sholat adalah penanda dimulainya fase pre aqilbaligh awal, inilah perintah untuk beradab kepada Allah. Di Fase ini juga anak sudah menyadari adanya dunia sosial di luar dirinya, menyadari adanya kehidupan dan adanya aturan di atasnya. Kemampuan belajar dan bernalar mencapai masa emasnya di usia ini. 2. Fitrah keimanan pada fase ini bergerak meningkat dari Konsepsi Tauhid Rubbubiyatullah, kepada kesadaran Potensi untuk Tunduk kepada Allah (Tauhid Mulkiyatullah), yaitu sejalan dengan perkembangan fitrah sosialnya serta fitrah belajar dan bernalarnya maka anak disadarkan...

bolen pisang premium

Resep bolen pisang Persiapan isian : Goreng pisang dgn margarine 1. Membuat kulit. Ttgi +gula halus+ buyer/margarin+telur +air. Aduk.. Aduk 1/2 kalian. Bagi menjadi 20 2. Pelapis margarin+minyak+ ttgi+ aduk rata. Pindahkan ke plastik, simpan di kulkas. Bagi menjadi 20 2. Pasangkan adonan kulit +pelapis. (Pelapis dibungkus bahan kulit) Dibuat bentuk bola.  3. Digilas, dilipat 3 sebanyak 3x. Istirahatkan adonan 15-20 menit. Digilas diisi dgn isian. Dilipat amplop. Lalu dilapisi dgn olesan (1 kuning telur+1-2 sdh susu cair).  4. Panggang pada suhu 180oC 35-45 menit Resep by Calista kitchen

hak-hak syar'ie anak

Untuk mengingat kembali hak anak yang harus kita penuhi ketika usianya 0-7 th *HAK-HAK SYAR'IE ANAK* Oleh: Ustad Aad Pada setiap diri manusia tersanding di dalamnya hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban ini telah Allah tetapkan atas makhlukNya. Sehingga bersifat syar'ie : Ada hak syar'ie... Ada kewajiban syar'ie... Banyak yang tak tahu atau lupa, bahwa ALLAH MENDAHULUKAN HAK DARIPADA KEWAJIBAN Maka DR Abdul Karim Zaidan pernah berkata : "Berakhlaqlah seperti Allah : Dia penuhi hak-hak Adam, setelah itu baru ia tuntut kewajiban untuk tak mendekati pohon Khuld" Secara mengejutkan DR Abdullah Nasih 'Ulwan dalam kitabnya "Hak Asasi dalam Islam"(: berkata tegas) الحق الاساسي في الاسلام "ISLAM LEBIH MENGUTAMAKAN HAK DARIPADA KEWAJIBAN", karena : Pertama, hak itu nama Allah Kedua, hak itu artinya kebenaran Ketiga, hak itu bermakna esensi (hakikat) Keempat, hak itu juga berarti kewajiban. Seperti : "Hak Muslim atas Muslim ada lima" Mak...