💓💓
Misi Keluarga dan Bakat Anak Anak
Banyak yang bertanya, bahkan bingung, bagaimana jika misi keluarga yang berangkat dari bakat Ayah dan Ibu, berbeda dengan bakat anak anak?
Sebenarnya kebingungan di atas karena beranggapan bahwa Misi Keluarga berangkat dari bakat ayah atau sinergi bakat bunda & bakat ayah.
Bukan. Misi Keluarga bukan berangkat dari Bakat, tetapi dari Keimanan. Memang Misi Keluarga awalnya berangkat dari Misi Personal Ayah atau Sinergi Misi Personal Ayah dan Misi Personal Bunda, namun Misi Personal bukan berangkat dari Bakat Ayah atau Bakat Bunda.
Misi Personal atau Misi Hidup seseorang harus berangkat dari Keimanan. Para bijak sufi mengatakan bahwa Misi Hidup adalah titik pertaubatan atau titik kesadaran untuk melakukan perubahan atau menyeru kebenaran atau menolong agama Allah dalam suatu bidang kehidupan, yang memanggil manggil dalam jiwa sejak lama dan menggebu gebu ingin dilakukan.
Mengapa Keimanan yang menjadi hal yang utama dalam Misi Hidup, karena justru inilah jantung kehidupan, keimanan inilah yang membuat manusia menjadi tangguh dan mampu melakukan perubahan besar yang Allah ridhai. Keimanan melahirkan keberanian yang besar dan rasa penasaran yang tak kenal menyerah.
Karenanya Keimanan harus menjadi payung besar bagi Misi Hidup seseorang. Misi hidup misalnya menyeru kebenaran atau menolong agama Allah atau melakukan perubahan dalam bidang pendidikan orangtua, bidang pendidikan remaja, bidang pemberdayaan masyarakat, bidang pertanian, bidang energi terbarukan dstnya. Namun harus spesifik, makin spesifik makin baik dan mudah diimplementasikan.
Contoh, misi hidup saya adalah "Mengembalikan kesejatian pendidikan dan kesejatian kehidupan yang berbasiskan fitrah". Ini bukan bakat saya, tetapi suatu bidang yang saya jatuh cinta dan memanggil manggil untuk membuat kebaikan disana.
Lalu dimana posisi Bakat? Bakat atau Kompetensi manusia penting, karena ia datang ke dalam misi besar hidupnya sebagai solusi. Misi tanpa Solusi tidak akan berkinerja baik.
Jadi karena bakat saya suka meneliti, suka belajar, suka menata pengetahuan, suka menulis, maka bakat saya datang kepada misi hidup saya sebagai solusi.
Maka Misi Hidup saya kemudian menjadi "mengembalikan kesejatian pendidikan dan kesejatian berbasis fitrah dengan memberi solusi berupa hasil riset, buku, pelatihan dstnya".
Ketika Misi Hidup saya menjadi Misi Keluarga, lalu dimana menempatkan istri dan anak anak saya dalam Misi Keluarga tsb? Nah tentu saja, bakat mereka masing masing menjadi pelengkap solusi bagi Misi Keluarga saya.
Karena istri saya punya bakat dalam hal suka mengatur, suka konsisten dstnya, maka bakatnya masuk ke dalam Misi Keluarga sebagai solusi yaitu memberi solusi dalam keuangan, project management dstnya.
Begitupula bakat anak saya, anak yang hebat dalam futuristic atau visionary, ia membantu saya dalam memberi solusi berupa perancangan Business Plan masa depan untuk Misi Keluarga di atas. Bakat anak saya yang lain, yang suka dalam pencatatan dan pengangkutan, maka saya tempatkan untuk memberi solusi dalam mengelola logistik. Bakat anak saya yang lain lagi, yang suka komunikasi dan bahasa, saya tempatkan untuk memberi solusi dalam kehumasan. Bakat anak saya yang lagi, yang suka desain dan riset, maka ia membantu misi keluarga saya dengan solusi digital marketing dsbnya.
Paparan di atas sekedar contoh, bahwa bakat orangtua dan bakat anak anak serta bakat istri bisa berbeda, namun mereka semua terlibat dalam memberikan solusi pada Misi Keluarganya. Semua bakat dalam keluarga bernaung dan memberi solusi pada Misi Keluarga.
Itulah mengapa Misi Keluarga harus berangkat dari Keimanan atau Nilai nilai yang ingin diperjuangkan dalam suatu bidang kehidupan bukan dari bakat, lalu bakat setiap anggota keluarga, mendukung dalam memberi solusi pada Misi Keluarga yang diperjuangkan bersama itu.
Sesungguhnya Misi Keluarga ini kelak akan menjadi Bisnis Keluarga dan akhirnya warisan Keluarga (Family Legacy), dan kita berharap anak dan keturunan kita bisa melanjutkan turun temurun Misi Keluarga kita dengan solusi masing masing mereka sesuai keunikan bakatnya dan juga keunikan zamannya kelak.
Jadi bangunlah Misi Keluarga dari dimensi keimanan dulu, bukan dimensi bakat, karena Keimanan adalah payung dari semua hal di dunia untuk menyeru kebenaran atau membuat perubahan yang Allah ridhai, dan kemudian bakat (sakila) datang sebagai solusi bagi misi hidup (sabila) apabila dilekatkan pada Robbmu. QS 17:84.
Ketika bakat bakat dan kompetensi di dalam keluarga, dinaungi Keimanan untuk menyeru kebenaran atau menolong agama Allah dalam suatu bidang kehidupan tertentu maka kemudian bakat dan kompetensi itu menjadi "dahsyat", sebagaimana tongkatnya Musa AS yang selama bertahun tahun hanya sebagai tongkat penggembala domba (competence certified), lalu ketika dinaungi keimanan untuk menyeru kebenaran, maka sejarah mencatat betapa saktinya tongkat Musa AS.
Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife
Komentar
Posting Komentar