Langsung ke konten utama

4 fase impian

4 FASE IMPIAN
#HappinessJourney

Oleh Ustad Sonny Abi Kim (Co Founder PPA Institute)
.
Berkaitan dengan impian dan cita-cita, saya memahami setidaknya ada 4 fase dalam hidup seseorang.
.
FASE #1; TAK PUNYA IMPIAN
Fase saat belum ada atau tidak ada kejelasan dalam impian.
Ada beberapa kemungkinan; boleh jadi karena masih bingung dan masih mencari apa yang sebenarnya ingin digapai, atau bisa juga karena sudah 'malas bermimpi', kecewa dengan realita kehidupan, sering terbentur dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Punya pengalaman traumatis di masa lalu yang membuat 'hidup segan - mati pun tak mau'. Hidup tanpa gairah, hanya berjalan tanpa kesadaran utuh.
.
FASE #2; TEROBSESI
Pada fase ini, seseorang sudah mulai punya impian, bahkan besar, tetapi dengan kondisi jiwa yang masih melekat, tergesa-gesa, dan sangat motivasional. Didominasi oleh nafsu sempit, meskipun terlihat mulia.

Di fase ini ada semangat dan dorongan yang sangat kuat untuk mewujudkan impian.
Bahasa khasnya adalah; 'saya harus bisa... ', 'saya pasti bisa...', 'pokoknya harus tercapai...'
Kondisi hati yang bergemuruh, 'nabrak' kanan-kiri, 'tubruk' depan-belakang.

Pada fase inilah terjadi benturan antara idealisme dan realitas, satu kenyataan hidup yang tak bisa kita hindari, bahwa tidak mungkin semua yang kita inginkan akan terjadi dan tercapai, karena sekarang kita sedang hidup di dunia, bukan di Surga.

Fase ini adalah titik critical, jika pada fase ini seseorang jauh dari Allah maka besar kemungkinan ia akan kembali pada fase pertama atau tetap stuck dan berhenti pada fase kedua ini selamanya. Hidupnya dihabiskan hanya untuk mengejar dan terus mengejar keinginan diri.

Tapi jika pada fase ini seseorang mulai mendekatkan diri kepada Rabbnya (meningkatkan level spiritualitas), maka ia akan naik dan masuk pada fase yang ketiga.
.
FASE #3; BERSERAH
Pada fase ini, seseorang mulai menyerahkan semua keinginan kepada Rabbnya.

Perjalanan dan pengalaman hidup yang membuat seseorang sadar, betapa ambisi dunia tak akan ada habisnya.
Manis-pahit dan asam-garam kehidupan yang mengantarkan pada sebuah kesadaran bahwa dirinya adalah seorang hamba, tak semestinya memaksakan kehendak.

Pada fase ini, seseorang sudah tak terlalu minat pada dunia. Ego yang sudah mulai tenggelam dan 'manut' pada apapun kehendak Rabbnya.

Dulu, saya berpikir inilah fase puncak, ternyata kata guru saya; bukan. Fase puncak adalah fase berikutnya.
.
FASE #4; SADAR MISI
Fase ini adalah hasil penggabungan semangat pada fase kedua dan kepasrahan pada fase ketiga. Lengkap, bulat, kongruen. Menghasilkan kondisi jiwa yang mantap dan kokoh.
Bahasa yang paling indah untuk menyebut kondisi hati pada fase ini adalah;
فاذا عزمت فتوکل علی الله …
“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah”

Perpaduan antara azzam (tekad dan ambisi yang besar) dengan tawakkal 'alallah (kepasrahan pada Allah).

Ambisi pada fase ini bukan lagi tentang ambisi pribadi, melainkan ambisi yang benar-benar untuk kepentingan ummat.
Impian yang besar, tapi sama sekali bukan tentang dirinya dan bukan untuk dirinya. Greater good.

Bukan untuk dikenal dan menyilaukan orang lain dengan cahaya semu assesoris diri, melainkan untuk menunjukkan cahaya Rabbnya dan keindahan agama ini.
Impian yang dikejar dengan all out, tapi bukan untuk membuktikan apapun kepada manusia, melainkan hanya ingin mempersembahkan pengabdian terbaik kepada Rabbnya.
Impian yang tulus murni, bukan impian yang dirangkai dengan keindahan kata dari lisan yang mendustai hati.

Kita baru bisa sampai pada fase ini setelah melewati dan merasakan fase-fase sebelumnya, tidak bisa short cut, tak bisa dipaksakan, tak bisa instan.

Meskipun ada yang cepat sampai, ada yang perlu waktu lebih lama, ada pula yang tidak sampai-sampai. Menutup usia tanpa menyadari misi terpenting dalam hidup, habis waktu hanya untuk memuaskan syahwat diri.

Kejadian demi kejadian dalam hidup seharusnya menjadi proses perjalanan yang menempa kita untuk semakin kenal dengan Allah, semakin menyadari misi hidup, dan semakin membersihkan hati.

Dan di akhir hidup nanti, semoga kita wafat dalam keadaan sedang berjuang mencari ridho Nya.
.
Semoga kita bisa sampai pada fase ini.
.
#FindingInnerPeace

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan berbasis Fitrah untuk Tahap Usia 7 – 10 Tahun

Prinsip Prinsip Pendidikan berbasis Fitrah untuk Tahap Usia 7 – 10 Tahun Oleh Ust Harry 1. Pahami Fitrah Perkembangan untuk tahap ini dengan baik. Tahap ini adalah fase dari konsepsi berkembang menjadi potensi. Ini masa  latih awal dimana anak sudah boleh diperintah atau adab sudah disampaikan sebagai perintah. Allah memerintahkan orangtua agar menyuruh anak anak mereka sholat ketika berusia 7 tahun. Perintah sholat adalah penanda dimulainya fase pre aqilbaligh awal, inilah perintah untuk beradab kepada Allah. Di Fase ini juga anak sudah menyadari adanya dunia sosial di luar dirinya, menyadari adanya kehidupan dan adanya aturan di atasnya. Kemampuan belajar dan bernalar mencapai masa emasnya di usia ini. 2. Fitrah keimanan pada fase ini bergerak meningkat dari Konsepsi Tauhid Rubbubiyatullah, kepada kesadaran Potensi untuk Tunduk kepada Allah (Tauhid Mulkiyatullah), yaitu sejalan dengan perkembangan fitrah sosialnya serta fitrah belajar dan bernalarnya maka anak disadarkan...

bolen pisang premium

Resep bolen pisang Persiapan isian : Goreng pisang dgn margarine 1. Membuat kulit. Ttgi +gula halus+ buyer/margarin+telur +air. Aduk.. Aduk 1/2 kalian. Bagi menjadi 20 2. Pelapis margarin+minyak+ ttgi+ aduk rata. Pindahkan ke plastik, simpan di kulkas. Bagi menjadi 20 2. Pasangkan adonan kulit +pelapis. (Pelapis dibungkus bahan kulit) Dibuat bentuk bola.  3. Digilas, dilipat 3 sebanyak 3x. Istirahatkan adonan 15-20 menit. Digilas diisi dgn isian. Dilipat amplop. Lalu dilapisi dgn olesan (1 kuning telur+1-2 sdh susu cair).  4. Panggang pada suhu 180oC 35-45 menit Resep by Calista kitchen

hak-hak syar'ie anak

Untuk mengingat kembali hak anak yang harus kita penuhi ketika usianya 0-7 th *HAK-HAK SYAR'IE ANAK* Oleh: Ustad Aad Pada setiap diri manusia tersanding di dalamnya hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban ini telah Allah tetapkan atas makhlukNya. Sehingga bersifat syar'ie : Ada hak syar'ie... Ada kewajiban syar'ie... Banyak yang tak tahu atau lupa, bahwa ALLAH MENDAHULUKAN HAK DARIPADA KEWAJIBAN Maka DR Abdul Karim Zaidan pernah berkata : "Berakhlaqlah seperti Allah : Dia penuhi hak-hak Adam, setelah itu baru ia tuntut kewajiban untuk tak mendekati pohon Khuld" Secara mengejutkan DR Abdullah Nasih 'Ulwan dalam kitabnya "Hak Asasi dalam Islam"(: berkata tegas) الحق الاساسي في الاسلام "ISLAM LEBIH MENGUTAMAKAN HAK DARIPADA KEWAJIBAN", karena : Pertama, hak itu nama Allah Kedua, hak itu artinya kebenaran Ketiga, hak itu bermakna esensi (hakikat) Keempat, hak itu juga berarti kewajiban. Seperti : "Hak Muslim atas Muslim ada lima" Mak...